Meski volume ekspor ini terbilang kecil dibandingkan total produksi nasional yang mendekati 5 miliar ton, tren ini mencolok karena terjadi di saat musim panas biasanya memicu peningkatan konsumsi listrik dan permintaan pasokan energi dalam negeri.
Impor batu bara China sempat mencetak rekor lebih dari 500 juta ton pada 2024. Namun, strategi pemerintah untuk memperkuat pasokan domestik dengan batu bara impor kini justru berujung pada kelebihan pasokan yang sulit diserap pasar.
Harga lokal anjlok ke level terendah dalam 4 tahun, sementara impor turun sekitar 8% dibandingkan tahun lalu. Surplus ini dipicu oleh pelemahan ekonomi, peningkatan konsumsi energi bersih, serta lemahnya permintaan batu bara kokas dari industri baja.
Dari seluruh mitra dagang utama China, hanya Australia — eksportir batu bara berkualitas tinggi — yang mencatat peningkatan pengiriman pada Mei. Sementara itu, Indonesia sebagai pemasok terbesar justru mengalami penurunan pengiriman sebesar 26% karena pembeli di China mulai meninggalkan pasokan.
Analisis Teknikal
Lantas bagaimana ‘ramalan’ harga batu bara untuk hari ini? Apakah bisa naik lagi dan menembus level US$ 110/ton?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), batu bara mantap di zona bullish. Tercermin dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 74.
RSI di atas 50 mengindikasikan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun hati-hati, karena RSI di atas 70 berarti sudah tergolong jenuh beli (overbought).
Hawa overbought makin terasa dengan indikator Stochastic RSI yang sudah menyentuh 100. Paling tinggi, sangat jenuh beli.
Hari ini, ada kemungkinan harga batu bara bakal terkoreksi. Maklum, kenaikannya memang sudah lumayan tinggi.
Target support terdekat ada di US$ 107/ton yang merupakan Moving Average (MA) 5. Jika tertembus, maka target berikutnya ada di kisaran US$ 105-103/ton.
Adapun target resisten terdekat adalah US$ 110/ton. Target paling optimistis atau resisten terjauh ada di US$ 119/ton yang menjadi MA-200.
(aji)





























