Logo Bloomberg Technoz

Biaya Produksi Naik, Smelter Nikel HPAL di RI Belum Kalah Saing

Mis Fransiska Dewi
26 June 2025 11:00

Produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) di pabrik pengolahan nikel./Bloomberg-Dimas Ardian
Produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) di pabrik pengolahan nikel./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mengungkapkan industri pabrik pemurnian (smelter) nikel berbasis high pressure acid leach (HPAL) di Indonesia masih lebih unggul dibandingkan dengan negara lain di dunia, meskipun tengah mendapat tekanan akibat kenaikan harga sulfur. 

Ketua Umum Perhapi Sudirman Widhy Hartono mengungkapkan kenaikan biaya produksi imbas lonjakan harga sulfur berlaku untuk seluruh smelter HPAL yang beroperasi di dunia, tidak hanya di Indonesia.

“Dalam konteks competitiveness [daya saing], pabrik HPAL di Indonesia lebih baik dibandingkan dengan HPAL di negara lain, dikarenakan faktor ketersediaan bahan baku HPAL berupa bijih limonit yang berlimpah serta infrastruktur pendukung yang memadai,” kata Sudirman saat dihubungi, Kamis (26/6/2025).

Simbol kimia untuk nikel sulfat (NiSO) diproyeksikan ke tangki selama pembukaan pabrik daur ulang baterai Mercedes-Benz Group AG./Bloomberg-Alex Kraus

Smelter HPAL menyerap nikel kadar rendah atau limonit untuk menghasilkan produk turunan berupa mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). 

Dalam kaitan itu, lanjut Sudirman, kenaikan harga sulfur setidaknya akan berpengaruh terhadap ekosistem baterai EV.