“Sedikit banyak untuk saat ini tentu akan berpengaruh, tetapi kita lihat saja perkembangannya. Kita tentunya berharap kenaikan harga sulfur yang signifikan ini tidak akan berlangsung secara permanen untuk jangka panjang,” ujarnya.
Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada smelter HPAL yang menyetop operasinya imbas kenaikan harga sulfur tersebut.
Hingga saat ini, menurut catatan Perhapi, terdapat sembilan smelter HPAL yang sudah beroperasi dan lima yang masih dalam tahap konstruksi di Indonesia.
Namun, Sudirman menyebut belum tersiar kabar ihwal pabrik HPAL yang sedang konstruksi menghentikan dan menunda rencana pembangunannya.
“Namun, tetap saja, kenaikan harga asam sulfat, serta penurunan harga nikel yang terjadi bersamaan, dalam kurun yang lama akan berdampak terhadap keekonomian operasional pabrik HPAL di Indonesia,” ujarnya.
Secara terpisah, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel menyatakan bakal mengutamakan efisiensi di seluruh rantai produksi, termasuk pengadaan bahan baku dan bahan penunjang proses di tengah kenaikan harga sulfur.
Harita Nickel
“Upaya optimalisasi ini merupakan bagian dari strategi kami untuk menjaga keberlanjutan operasional meski di tengah tekanan biaya produksi,” kata Head of Investor Relations Harita Nickel Lukito Gozali saat dimintai konfirmasi.
Lukito mengungkapkan harga komoditas, termasuk sulfur, memang sangat fluktuatif dan menjadi salah satu tantangan dalam industri pengolahan mineral.
Harita Nickel, kata dia, memiliki fasilitas HPAL seperti PT Halmahera Persada Lygend (HPL) dan PT Obi Nickel Cobalt (ONC). Saat ini seluruhnya beroperasi dalam kapasitas penuh. Kedua fasilitas tersebut memiliki total kapasitas produksi hingga 120.000 ton kandungan nikel dalam MHP per tahun.
Argus belum lama ini melaporkan harga sulfur global mulai naik sejak pertengahan 2024 karena permintaan yang lebih kuat dari Maroko dan Indonesia.
Harga sulfur freight on board (FoB) Timur Tengah naik lebih dari tiga kali lipat menjadi US$285,5/ton FoB per 1 Mei dari US$86/ton tahun sebelumnya, menurut penilaian Argus. Harga sulfur granular cost on freight (CFR) Indonesia naik US$185/ton menjadi US$297/ton CFR selama periode yang sama.
Sementara itu, harga sulfur telah meningkat secara signifikan selama setahun terakhir, sedangkan harga nikel intermediet asal Indonesia sebagian besar berada dalam kisaran US$12.000—US$14.000/ton nikel yang sejak Januari 2024.
Harga nikel yang relatif datar dan kenaikan harga bahan baku membuat margin smelter HPAL makin menyempit. Margin laba kotor untuk produk MHP mendekati US$10.000/ton pada 2023 sebelum turun menjadi sekitar US$7.000/ton pada 2024, menurut perkiraan Argus.
Sebelumnya, sekelompok perusahaan pelopor smelter nikel hidrometalurgi di Indonesia dengan biaya produksi terendah di dunia dilaporkan tengah terpukul oleh lonjakan harga sulfur, yang menghambat keuntungan mereka; tepat saat pasar dibebani dengan isu kelebihan pasokan bijih nikel.
Harga sulfur, bahan kimia yang digunakan untuk memproduksi asam, telah naik lebih dari tiga kali lipat selama setahun terakhir, didorong oleh peningkatan permintaan. Hal itu menjadi masalah bagi smelter HPAL di Indonesia.
Meningkatnya pasokan logam nikel — komoditas penting untuk baterai mobil listrik — telah memicu penurunan harga nikel, dengan harga acuan di LME mencapai titik terendah sejak 2020 awal tahun ini.
Kemerosotan tersebut telah meningkatkan persaingan di antara para produsen, sehingga menimbulkan tantangan bagi industri pengolahan nikel, serta bagi pemerintah daerah, yang telah mempromosikan hilirisasi mineral sebagai cara untuk meningkatkan ekonomi di negara terbesar Asia Tenggara itu.
"Kita mungkin melihat suatu titik akhir tahun ini atau awal tahun depan ketika pabrik-pabrik HPAL mengalami margin yang sangat tipis," kata Luigi Fan, seorang analis di SMM Information & Technology Co.
Namun, Fan mengingatkan bakal ada lebih banyak produsen HPAL yang kemungkinan besar akan beroperasi, karena harga kobalt —produk sampingan nikel — yang kuat.
(mfd/wdh)
































