Investor memilih keluar lebih dulu dari pasar dan aset-aset berisiko sembari menunggu reaksi Iran terhadap serangan AS pada Ahad. Yang terbaru, Iran masih melanjutkan serangan terhadap Israel dan mengatakan serangan AS “keterlaluan dan akan memiliki konsekuensi panjang”.
Garda Revolusi Iran menyatakan bakal terus menjadikan Israel sebagai target serangan. Mereka juga menyebut basis militer AS di Timur Tengah sebagai sebuah kelemahan.
"Ketidakpastian seperti ini dengan cepat menjadi hal yang lumrah bagi pasar jadi saya memperkirakan akan ada ketenangan relatif kecuali jika kita melihat ketegangan terus meningkat yang saya perlu tegaskan berpotensi terjadi," kata Josh Gilbert, Market Analyst di eToro di Sydney, dilansir dari Bloomberg News.
"Bahkan tanpa dampak langsung, kombinasi antara volatilitas harga minyak dan ketidakpastian baru kemungkinan tetap akan membaut selera akan risiko [risk appetite] rendah," jelasnya.
Merujuk yang lalu, reaksi pasar pada umumnya tidak terlalu terlihat bila menyoal serangan Israel pada 13 Juni. Setelah jatuh dalam dua pekan terakhir, S&P 500 hanya sekitar 3% di bawah titik tertinggi sepanjang masa yang terjadi pada Februari lalu.
Menurut pengamat pasar, apakah hal itu akan bertahan atau tidak sangat bergantung pada langkah Iran selanjutnya.
Analisis Bloomberg Economics menilai, kemungkinan besar Iran akan menanggapi serangan AS itu dengan aksi militer. Ada dua pilihan utama yang mungkin akan ditempuh oleh Iran.
Pertama, melakukan pembalasan terukur dan terarah pada aset-aset AS, yang menunjukkan Iran telah menanggapi tanpa memicu reaksi militer AS lebih kerah. Itu mirip dengan apa yang terjadi setelah AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani pada awal 2020. Dua belah pihak setelah itu bisa bernegosiasi menuju deeskalasi.
Kedua, pembalasan substansial yang menargetkan personel dan aset AS di kawasan Timur Tengah, fasilitas energi di Teluk dan bahkan mungkin langkah yang belum terjadi sebelumnya yakni menutup Selat Hormuz menggunakan ranjau bawah laut atau menganggu kapal-kapal yang melewatinya.
Iran dinilai akan berhati-hati untuk tidak memicu eskalasi lebih besar dalam perang yang mereka tahu akan sulit mereka menangkan, menurut tim ekonom Bloomberg Economics di antaranya Ziad Daoud, Dina Esfandiary, Tom Orlik dan Jennifer Welch dalam catatannya yang dilansir kemarin.
Harga minyak dunia telah naik dari kisaran US$70 per barel saat Israel pertama menyerang Iran, ke level US$77 pada Jumat seiring perhitungan pasar akan dampak konflik terhadap pasokan.
“Dalam skenario ekstrem di mana Selat Hormuz ditutup, harga minyak mentah bisa melonjak melampaui US$130 per barel. Itu akan membebani pertumbuhan global dan mendorong inflasi lebih tinggi. Inflasi AS bisa menyentuh 4%,” kata tim ekonom Bloomberg Economics.
Outflows berlanjut
Kejatuhan bursa saham Asia kemungkinan besar akan diikuti oleh bursa saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi kembali tertekan. “IHSG hari ini diperkirakan masih bergerak tertekan dengan kecenderungan melemah. Secara teknikal, terbentuk pola double top yang mengindikasikan potensi penurunan hingga level 6.882,” kata Customer Engagement & Market Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Chory Agung Ramdhani dalam risetnya, Senin (23/5/2025).
BRI Danareksa Sekuritas memprediksi IHSG akan bergerak dengan support 6.882 dengan resistance 7.100 untuk perdagangan hari ini.
Pelemahan rupiah akan memberi tekanan lebih besar pada indeks saham. Di pasar offshore, rupiah forward (NDF) sudah bergerak di kisaran Rp16.476/US$, terlemah sejak akhir Mei, setelah pekan lalu mencatat pelemahan hingga 0,8%, terburuk sejak awal April.
Pergerakan rupiah NDF seringkali mencerminkan gerak rupiah di pasar spot. Pasar spot valas baru akan dibuka pada pukul 09:00 WIB nanti.
Arus modal asing membesar di pasar saham dan surat utang domestik sejak pekan lalu ketika Israel menyerang Iran. Di pasar saham, asing membukukan net sell sebesar US$ 275,4 juta pada pekan lalu. Sedangkan di surat utang sampai data 18 Juni, asing mencatat net sell US$ 822,2 juta pekan kemarin.
-- dengan bantuan laporan Muhammad Fikri.
(rui)
























