Salah satu lokasi terdampak adalah asrama mahasiswa B.J. Medical College, di mana saat kejadian, para mahasiswa tengah makan siang di ruang makan. Pesawat yang penuh bahan bakar itu menghantam bangunan hingga menimbulkan ledakan dahsyat. Sejumlah keluarga berkumpul di lokasi berharap mendapatkan informasi mengenai nasib sanak saudara mereka.
Seorang perempuan muda, Payal Tushar Thakur (akhir 20-an), hingga kini masih menanti kabar ibunya yang bekerja di kantin kampus.
"Kami ini orang miskin, jadi sepertinya tidak ada yang peduli memberi kami informasi," ujarnya dengan suara bergetar. "Kami syok, bahkan sulit makan atau minum. Buat apa uang santunan kalau orang yang kami cintai sudah tiada?"
Pihak Air India menyatakan akan memberikan santunan senilai sekitar 21.000 poundsterling (setara US$28.500) kepada keluarga korban serta penyintas. Selain itu, Air India selaku anak usaha Tata Sons, juga menambahkan kompensasi senilai 85.000 poundsterling per keluarga.
Tidak Ada Pilihan
Muhammed Owess (35 tahun), yang terbang dari Australia setelah mengetahui kakak iparnya, Nusrat Jahan, menjadi korban kecelakaan, mengaku cukup puas dengan respons Air India dan pemerintah sejauh ini. Meski demikian, jasad kakak iparnya belum teridentifikasi secara resmi melalui uji DNA.
"Kami tidak punya pilihan selain menunggu, mengingat skala tragedi ini," ujarnya.
Untuk mempercepat pengambilan sampel DNA, otoritas setempat mengerahkan 12 tim yang bekerja bergiliran selama 24 jam. Namun, proses pengumpulan data tersebut dilaporkan sempat kacau, bahkan ditemukan kasus di mana beberapa bagian tubuh korban tercampur dalam satu kantong jenazah.
Departemen Kesehatan Negara Bagian Gujarat juga menurunkan 855 tenaga medis, termasuk 100 tenaga kesehatan tambahan yang ditempatkan di pusat trauma dekat lokasi kecelakaan. Tim medis ini berasal dari rumah sakit setempat maupun tenaga bantuan darurat. Layanan konseling pun disiapkan untuk membantu keluarga korban menghadapi situasi ini.
“Menentukan total jumlah korban tewas akan memakan waktu," kata Alok Kumar Pandey, komisaris bantuan pemerintah Gujarat, pada hari Minggu. "Kami mohon kesabaran Anda sementara kami bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mengidentifikasi para korban dan memberi tahu keluarga mereka."
Hingga kini, para ahli dari Boeing, Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat India, serta sejumlah otoritas penerbangan sipil terus melakukan investigasi di lokasi kejadian. Namun, keluarga korban mengeluhkan minimnya informasi resmi dari pemerintah. Sejauh ini, Kementerian Penerbangan India baru sekali menggelar konferensi pers sejak insiden terjadi.
Ambulans tampak terus keluar-masuk membawa jenazah ke pusat forensik yang terletak tak jauh dari lokasi kecelakaan. Pada Minggu, pusat tersebut dipadati keluarga korban yang menanti kabar. Sejumlah pejabat, termasuk menteri daerah hingga aparat kepolisian senior, turut hadir memberi penghormatan sekaligus menjanjikan dukungan penuh atas upaya pencarian dan identifikasi korban.
Namun, sebagian keluarga korban menyatakan kekecewaan mereka atas lambannya koordinasi serta minimnya update resmi.
"Kami sudah menunggu lebih dari 72 jam tanpa kabar," keluh Rohit Patel, yang kehilangan keponakan beserta istri keponakannya dalam insiden ini. "Saya terus dihujani pertanyaan oleh keluarga besar dan masyarakat. Saya harus jawab apa?"
(bbn)




























