Kenaikan yield SUN juga mengikuti tren global di mana yield US Treasury, surat utang Amerika, bergerak naik di semua tenor di mana yield 10Y naik 3,1 bps siang ini di 4,432%. Sedangkan tenor pendek 2Y naik 2,3 bps kini di 3,971%.
Saat ini, pasar mengantisipasi skenario harga minyak mentah Brent melonjak hingga kisaran US$ 80 per barel dan kemungkinan The Fed menunda pemangkasan suku bunga hingga Desember sebesar 50 basis poin.
Dua hal itu memaksa investor bergerak mengantisipasi risiko kerugian lebih besar dengan bertindak defensif, memilih melepas surat utang bertenor lebih panjang.
Pasar juga mencermati pernyataan terbaru Kementerian Keuangan menanggapi perkembangan kondisi geopolitik terkini. Seperti dilaporkan oleh Bloomberg Technoz, Kementerian Keuangan menilai perang Israel dan Iran bisa menambah tekanan pada inflasi domestik, biaya subsidi energi, serta beban fiskal di Tanah Air.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Deni Surjantoro mengatakan kondisi itu bisa terjadi bila perang antara Iran dan Israel terjadi berlarut-larut dan menyebabkan lonjakan harga minyak dunia secara signifikan.
"Dampak terhadap perekonomian Indonesia sebagai negara dengan sistem ekonomi terbuka, akan sangat bergantung pada seberapa panjang dan luas eskalasi konflik ini berlangsung," ujar Deni.
"Pemerintah, melalui Kemenkeu, terus memantau berbagai perkembangan situasi geopolitik global, termasuk ketegangan antara Iran dan Israel," kata Deni.
Terlebih, Kemenkeu melihat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian global, khususnya melalui jalur harga komoditas energi seperti minyak dan gas, serta sentimen pasar keuangan global.
Harga minyak dunia sudah melesat lebih dari 13% sejak serangan Israel ke Iran pada Jumat pagi mengerek dramatis risiko geopolitik global. Siang ini waktu Jakarta, harga minyak WTI berada di kisaran US$ 73,34 per barel, sedangkan Brent di harga US$ 74,55 per barel.
Bagi Indonesia, harga minyak dunia yang makin mahal adalah kabar buruk mengingat posisinya sebagai net oil importer.
Posisi harga minyak dunia saat ini memang masih di bawah asumsi makro APBN yang ditetapkan US$ 82 per barel. Namun, bila perang berlanjut dan harga minyak terus terbang, beban fiskal akan membengkak.
Sementara rupiah diasumsikan di level Rp16.000/US$. Dengan posisi saat ini, rupiah sudah lebih lemah hampir 2% dari asumsi makro APBN 2025.
Adapun tingkat imbal hasil SUN 10 tahun dalam asumsi makro ditetapkan 7%. Posisi saat ini masih lebih rendah.
(rui)




























