Logo Bloomberg Technoz

Ladang South Pars merupakan ladang gas terbesar dunia, dan berlokasi di Iran serta Qatar. Ladang ini dikenal sebagai North Field. Gas dari South Pars sebagian besar digunakan untuk kebutuhan domestik Iran dan tidak banyak diekspor. South Pars sendiri menyumbang sekitar dua pertiga pasokan gas negara tersebut.

Kebakaran di fasilitas Fase 14 menghentikan produksi dari salah satu platform lepas pantainya, yang memproduksi sekitar 12 juta meter kubik per hari. Petugas pemadam berhasil mencegah penyebaran api ke unit lain.

Di saat yang sama, kebakaran lain juga terjadi di pabrik gas Fajr Jam, salah satu fasilitas pengolahan terbesar di Iran yang memproses gas dari South Pars serta ladang Nar dan Kangan.

Serangan ini dikhawatirkan akan semakin memperburuk kondisi industri energi Iran yang memang sudah goyah. Negara kaya energi ini tengah mengalami pemadaman listrik terparah dalam beberapa dekade terakhir, yang memukul berbagai sektor ekonomi. Menurut Kamar Dagang Iran, pemadaman listrik ini menyebabkan kerugian sekitar US$250 juta per hari.

"Israel tengah mencari target-target ekonomi, namun untuk saat ini masih berupaya membatasi dampak lanjutan terhadap pasar internasional agar tidak kehilangan dukungan dari sekutu-sekutunya," ujar Bronze.

Penyebab pasti kebakaran di Fajr Jam belum diumumkan, namun dugaan awal mengarah pada serangan drone, menurut laporan Tasnim.

Iran telah membangun jaringan besar fasilitas pengolahan gas dan petrokimia di sekitar Pelabuhan Assaluyeh di pesisir selatan negara itu. Fasilitas-fasilitas ini juga penting untuk ekspor kondensat, yaitu cairan ringan mirip minyak yang biasanya dihasilkan bersamaan dengan gas. Kondensat Iran sebagian besar dikirim ke China.

Selain itu, Iran juga mengekspor gas ke Irak dan pernah mengirimkan pasokan ke Turki. Namun, Iran belum mampu mengamankan investasi untuk membangun terminal LNG yang memadai agar bisa mengekspor gas secara luas ke pasar global.

"Ini merupakan eskalasi yang sangat signifikan," kata Jorge Leon, analis Rystad Energy A/S sekaligus mantan pejabat di sekretariat OPEC.

"Ini mungkin serangan paling penting terhadap infrastruktur minyak dan gas sejak serangan ke fasilitas Abqaiq milik Saudi pada 2019," tegasnya.

(bbn)

No more pages