Baznas menjelaskan, meskipun potensi ekonomi kurban tidak tumbuh tinggi namun diklaim tetap memiliki tren yang positif. Sebab, kata Baznas, Muslim Consumption Index yakni indeks pengeluaran masyarakat muslim yang berkaitan dengan ibadah tetap meningkat.
“Begitu juga jika dibandingkan dengan tren pencatatan kurban secara nasional yang terus meningkat,” kata Baznas.
Sementara itu, lembaga riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memproyeksi potensi ekonomi kurban tahun ini mencapai Rp27,1 triliun yang berasal dari 1,92 juta rumah tangga pekurban.
Proyeksi tersebut juga tercatat turun dari prediksi tahun sebelumnya yang diestimasikan mencapai Rp28,3 triliun dari 2,1 juta rumah tangga pekurban. Dengan begitu, IDES memprediksi terjadinya penurunan 233 ribu pekurban.
“Angka ini lebih rendah daripada saat kurban di masa pandemi (2021-2023). Hal ini menunjukan penurunan daya beli masyarakat di semua kelas ekonomi yang menjadi indikator pelemahan ekonomi,” tulis IDEAS dalam risetnya.
Adapun, Kementerian Pertanian (Kementan) memprediksi kebutuhan hewan kurban pada momen Hari Raya Idul Adha tahun 2025 mengalami peningkatan 1,98% dari tahun 2024.
"Kebutuhan hewan kurban nasional pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 2.074.269 ekor, meningkat 1,98% dibandingkan tahun sebelumnya," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda dalam keterangannya.
Agung mengungkapkan bahwa hal ini juga dibarengi dengan ketersediaan hewan kurban nasional yang tercatat mencapai 3.217.397 ekor. Sehingga terjadi surplus atau berlebih sekitar 1,14 juta ekor.
(azr/spt)































