Logo Bloomberg Technoz

Secara teknikal nilai rupiah berpotensi melanjutkan tren pelemahan di zona merah menuju Rp16.310/US$ terdekat sampai dengan Rp16.350/US$, dengan mencermati support kuat rupiah pada Rp16.400/US$.

Sementara trendline sebelumnya pada time frame daily menjadi resistance terdekat potensial pada level Rp16.250/US$. Kemudian, target penguatan lanjutan untuk kembali ke atas level Rp16.200/US$.

Apabila terjadi penguatan optimis di Rp16.200/US$ hingga Rp16.180/US$ dalam tren jangka pendek (short-term), maka rupiah berpotensi terus menguat dan uji resistance baru hingga Rp16.100/US$.

Sebaliknya, selama nantinya nilai rupiah bertengger di atas Rp16.400/US$ usai pelemahan, maka masih ada potensi untuk lanjut melemah hingga Rp16.500/US$ menjemput tekanan sebelumnya.

Pelemahan rupiah pagi ini berlangsung ketika IHSG dibuka hijau dan kini masih menguat 0,45% di level 7.076. Sedangkan di pasar surat utang negara, sesuai data OTC Bloomberg pagi ini, harga obligasi negara cenderung bergerak stabil.

Yield 2Y naik tipis 0,2 bps, sedangkan tenor 5Y turun 0,7 bps bersama tenor 10Y yang juga terpangkas sedikit yield-nya di 6,877%.

Khawatir neraca dagang

Pelemahan rupiah masih menuai imbas dari kekhawatiran yang meningkat akan potensi pelebaran defisit transaksi berjalan bila penyusutan surplus dagang berlanjut bulan-bulan mendatang.

Pada April, surplus dagang RI ambles tinggal US$ 160 juta akibat lonjakan impor yang tajam di tengah perang dagang ketika ekspor juga berjalan stagnan cenderung menurun.

Nilai surplus dagang yang ambles dapat membuat pertahanan rupiah melemah karena defisit transaksi berjalan bisa makin lebar ke depan. Rupiah yang lemah akan menciderai kinerja korporasi terutama yang sensitif dengan pergerakan valas, di tengah kelesuan daya beli yang masih berlanjut ketika badai PHK membesar.

Selain itu, pekan ini hanya berlangsung empat hari perdagangan sehingga para investor cenderung mengambil sikap taktis dengan menahan diri demi memitigasi risiko yang mungkin muncul dari pasar global ketika bursa domestik libur mulai Jumat nanti.

Sentimen negatif dalam negeri juga datang dari gelar lelang Surat Utang Negara yang menunjukkan kelesuan dengan nilai incoming bids turun hampir 30% kemarin. Selain itu, arus keluar modal asing dari pasar saham juga berlanjut dua hari terakhir dengan nilai mencapai Rp3,5 triliun.

Sedangkan dari luar negeri, pembukaan lapangan kerja di negeri itu, JOLTS Opening, menunjukkan kenaikan tak terduga yang menambahkan sinyal ketangguhan ekonomi terbesar di dunia. 

Data JOLTS Opening memperkuat pernyataan Federal Reserve, bank sentral AS, bahwa pasar kerja negeri itu dalam kondisi yang baik. Kendati para ekonom sebagian masih mengkhawatirkan pelemahan akan terlihat nyata beberapa bulan ke depan akibat kebijakan tarif dan sepertinya belum terlihat pada data-data saat ini.

Yang pasti, data terakhir itu tidak mengubah ekspektasi kebijakan bunga The Fed. Pasar swap masih memperkirakan akan ada dua kali pemangkasan bunga acuan The Fed tahun ini, kemungkinan mulai Oktober.

Yang terbaru, Gubernur Federal Reserve Bank Atlanta Raphael Bostic, menyatakan bahwa ia belum terburu-buru untuk menurunkan suku bunga. Ia menegaskan bahwa masih dibutuhkan "banyak" kemajuan dalam pengendalian inflasi, meskipun data harga terbaru menunjukkan perkembangan positif.

“Masih ada jalan panjang terkait kemajuan yang perlu kita lihat,” ujar Bostic dalam panggilan telepon dengan wartawan pada Selasa (3/6/2025). “Saya belum menyatakan kemenangan atas inflasi.”

(rui)

No more pages