Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Selasa (3/6/2025).
- DCI Indonesia (DCII) mengurangi 6,64 poin
- Chandra Asri Pacific (TPIA) mengurangi 3,96 poin
- Astra International (ASII) mengurangi 3,57 poin
- Bank Central Asia (BBCA) mengurangi 3,42 poin
- Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 2,86 poin
- Bank Mandiri (BMRI) mengurangi 2,21 poin
- United Tractors (UNTR) mengurangi 1,61 poin
- Merdeka Copper Gold (MDKA) mengurangi 1,42 poin
- Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) mengurangi 1,37 poin
- Bumi Resources (BUMI) mengurangi 1,27 poin
Adapun saham-saham perindustrian lain juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) drop 14,7%, saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) terpeleset 9,89%, dan saham PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) juga melemah dengan kehilangan 3,92%.
Hingga diperberat oleh pelemahan saham LQ45 berikut, saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang turun 5,18%, saham PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) melemah 4%, dan saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang mencetak pelemahan 3,51%.
Pelemahan Rupiah Bikin Berat IHSG
Sebab lainnya, investor juga gelisah terhadap pelemahan rupiah hari ini yang ditutup di level Rp16.290/US$ di pasar spot berdasarkan data Bloomberg, setelah sempat menyentuh level terendah di Rp16.305/US$.
Kinerja rupiah yang berbalik arah hingga kembali terpeleset di tren negatif, terjadi ketika dolar AS bergerak stabil di level 98,92, setelah sempat melemah 6% di New York sampai-sampai sentuh di posisi 98,58. Ini menjadi yang terendah sejak 22 April atau nyaris 2 bulan.
Dalam intraday trading hari ini rupiah sempat menyentuh level terlemahnya di Rp16.305/US$, terlebih hingga menjadi yang terlemah di Asia siang hari ini, tersengat sentimen kehati-hatian akan risiko pelebaran defisit transaksi berjalan bila tren lonjakan impor RI pada April terus berlanjut.
Rupiah sepertinya terbebani sentimen neraca perdagangan Indonesia. Impor RI pada April naik tajam hingga 21,84% dibanding April tahun sebelumnya. Sementara, pada saat yang sama, ekspor hanya tumbuh 5,76% YoY. Alhasil, surplus dagang susut sangat besar hingga ‘tersisa’ US$ 160 juta, dari posisi surplus lebih dari US$ 4 miliar pada bulan sebelumnya.
Bila tren lonjakan impor itu hanya terjadi satu kali, ada kemungkinan besar surplus dagang RI akan pulih dalam beberapa bulan, menurut analisis tim Mega Capital Sekuritas. Hal itu bisa memberi dukungan stabilitas rupiah di kisaran Rp16.100-Rp16.500/US$.
Sebaliknya, bila tren lonjakan impor itu berlanjut, analis melihat ada skenario pelebaran defisit transaksi berjalan untuk tahun fiskal 2025 menjadi lebih dari 1% dari Produk Domestik Bruto.
“Hal itu bisa menimbulkan tekanan depresiasi kuat terhadap rupiah hingga kisaran Rp16.500-Rp16.900/US$ atau lebih tinggi,” kata Lionel Priyadi, Fixed Income and Macro Strategist Mega Capital.
BPS merilis data surplus perdagangan Indonesia menyempit tajam menjadi US$ 0,15 miliar pada April 2025 (Maret 2025: US$ 2,72 miliar), jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan surplus US$ 3,04 miliar. Ini adalah surplus perdagangan terkecil sejak April 2020, terutama didorong oleh lonjakan impor, jadi sentimen penekan IHSG seperti yang dipaparkan Panin Sekuritas.
(fad)


























