Logo Bloomberg Technoz

Pemilu dadakan ini dilaksanakan setelah Yoon dicopot dari jabatannya pada 4 April karena melanggar konstitusi, kurang dari tiga tahun sejak ia terpilih sebagai presiden. Berdasarkan hukum Korsel, pemilu harus digelar dalam waktu 60 hari setelah presiden dicopot.

Yoon mengejutkan dunia pada Desember lalu ketika ia menyatakan darurat militer—pertama kalinya sejak demokrasi penuh diterapkan sekitar 40 tahun lalu. Keputusan tersebut, yang disebut sebagai upaya untuk mengatasi kebuntuan politik di parlemen yang dikuasai oposisi, segera dibatalkan oleh parlemen yang kemudian memakzulkannya.

Siapa Saja Kandidat Utamanya?

Warga Korsel memilih satu kandidat presiden, yang akan menjabat satu periode selama lima tahun. Pemungutan suara tidak bersifat wajib.

Dua kandidat utama yang bersaing adalah Lee Jae-myung dari Partai Demokrat yang berhaluan kiri, dan Kim Moon-soo dari Partai Kekuatan Rakyat (PPP) yang konservatif. Meski berbeda jalur politik, keduanya sama-sama mantan aktivis buruh. Kim bahkan pernah dipenjara karena memimpin gerakan pro-demokrasi di era militer tahun 1980-an.

Lee (60 tahun) sebelumnya kalah tipis dari Yoon dalam pemilu 2022. Ia memanfaatkan dominasi partainya di parlemen untuk menghambat kebijakan Yoon dan kemudian memimpin upaya pemakzulan pasca-deklarasi darurat militer.

Setelah Yoon dimakzulkan, Kim (73 tahun) mendapatkan dukungan dari akar rumput PPP, meski awalnya partai mengusung kandidat yang lebih moderat. Ia dipuji sebagian kalangan konservatif karena menentang pemakzulan Yoon, namun untuk menang, ia harus mampu menjangkau pemilih di luar basis inti partainya.

Kandidat lain adalah Lee Jun-seok (40 tahun), mantan ketua PPP yang kini maju lewat Partai Reformasi, partai baru berhaluan kanan. Ia menolak bergabung dengan Kim dan mengambil sikap kritis terhadap keputusan darurat militer Yoon, yang bisa memecah suara konservatif.

Apa yang Diusung Para Kandidat?

Lee Jae-myung sebelumnya menyebut dirinya sebagai "Bernie Sanders-nya Korea", namun kini ia lebih moderat. Ia mengurangi ambisi untuk menerapkan pendapatan dasar universal, dan berfokus pada peningkatan belanja negara untuk rumah tangga, dukungan pada pengembangan industri AI, serta memperjuangkan hak pemegang saham minoritas untuk melemahkan dominasi konglomerat.

Ia juga mengusulkan pemangkasan masa jabatan presiden dari lima tahun menjadi empat tahun, namun memungkinkan dua periode melalui referendum yang bisa dilakukan mulai tahun depan.

Kim Moon-soo (Photographer: SeongJoon Cho/Bloomberg)

Kim menampilkan diri sebagai kandidat pro-bisnis. Ia mendukung deregulasi untuk mendorong pertumbuhan dan memberi insentif bagi usaha kecil. Ia juga mengusulkan perubahan masa jabatan menjadi dua periode masing-masing empat tahun, dan siap memangkas masa jabatan awal menjadi tiga tahun demi mempercepat reformasi.

Lee Jun-seok membidik pemilih muda konservatif. Ia mengusung dukungan pada riset sains, deregulasi bisnis, dan upah minimum lebih rendah bagi pekerja asing dibandingkan warga lokal.

Siapa yang Dijagokan Menang?

Lee Jae-myung unggul di sebagian besar survei, namun selisihnya dengan Kim semakin mengecil.

Survei Gallup Korea 20–22 Mei menunjukkan dukungan terhadap Lee sebesar 45%, turun enam poin dari pekan sebelumnya. Sementara itu, Kim naik tujuh poin menjadi 36%, dan Lee Jun-seok naik dua poin ke posisi 10%—tertinggi sejauh ini.

Jika salah satu dari Lee Jun-seok atau Kim mundur, peluang konservatif untuk menang akan meningkat. Meski keduanya menolak mundur, sejarah menunjukkan bahwa kandidat bisa saja menarik diri di tengah kampanye.

Lee Jun-seok (Photographer: Jean Chung/Bloomberg)

Apa yang Jadi Perhatian Pemilih?

Menghidupkan kembali perekonomian menjadi tugas utama presiden baru. Pertumbuhan ekonomi yang menyusut pada kuartal pertama 2025 menandakan lemahnya aktivitas bisnis dan kepercayaan konsumen, bahkan sebelum dampak penuh tarif AS dirasakan.

Isu lain yang mendesak termasuk akses terhadap perumahan terjangkau, penciptaan lapangan kerja, serta rekonsiliasi nasional di tengah polarisasi politik. Reformasi konstitusi untuk mengizinkan masa jabatan presiden berturut-turut juga mencuat sebagai langkah untuk menciptakan stabilitas politik jangka panjang.

Kebijakan luar negeri juga jadi sorotan utama, khususnya terkait dampak tarif ekspor dan ancaman militer Korea Utara yang semakin kuat dengan dukungan dari Rusia.

Apa Taruhannya bagi Kawasan?

Presiden baru harus memutuskan bagaimana memperkuat kerja sama keamanan trilateral dengan AS dan Jepang, di tengah kekhawatiran akan komitmen Trump terhadap perjanjian pertahanan.

Hubungan Korea Selatan dan Jepang yang membaik di bawah Yoon berisiko terancam, mengingat seringnya pemimpin baru di Seoul membatalkan kebijakan pendahulunya.

Lee cenderung tidak akan membuat kejutan diplomatik besar, namun ia bisa kembali pada pendekatan yang lebih lunak terhadap Korea Utara—sebuah pola yang kerap terjadi ketika pemerintahan berpindah ke tangan kubu progresif.

Jika Kim Moon-soo menang, kebijakan keras terhadap Pyongyang kemungkinan berlanjut. Ia juga mendorong kerja sama seperti NATO dalam berbagi senjata nuklir.

Isu lainnya adalah bagaimana Korea Selatan menyeimbangkan relasi dengan dua kekuatan besar: AS sebagai sekutu keamanan, dan China sebagai mitra dagang utama.

Mungkinkah Trump Jadi Faktor yang Memengaruhi Pemilu?

Ekspor Korsel menyumbang lebih dari 40% terhadap PDB, menjadikannya sangat rentan terhadap kebijakan tarif Trump.

Lee menilai tidak perlu buru-buru menyepakati kesepakatan dengan AS, dan menganggap AS tidak selalu memiliki posisi tawar mutlak. Sebaliknya, Kim menyatakan akan segera mengadakan pertemuan puncak dengan Trump untuk menyelesaikan isu tarif jika terpilih. Sikap ini bisa memengaruhi keputusan pemilih, apalagi jika perjanjian sebelum pemilu tidak tercapai.

Isu kontribusi Korsel dalam pendanaan kehadiran militer AS juga turut menjadi pertimbangan sebagian pemilih.

Apa Kebijakan Lain yang Bisa Berubah?

Arah kebijakan energi Korsel bisa berubah drastis tergantung siapa yang menang. Lee ingin menutup semua pembangkit listrik berbahan bakar batu bara pada 2040 dan menolak pembangunan reaktor nuklir baru. Ia juga mendorong ekspansi energi terbarukan.

Sebaliknya, Kim mendukung energi nuklir sebagai sumber energi murah dan aman. Jika Lee menang, sikap Korsel akan berbeda dengan tren global yang kembali melirik nuklir sebagai solusi rendah karbon, seperti yang dilakukan China, Jepang, UEA, dan Prancis.

(bbn)

No more pages