Logo Bloomberg Technoz

Merosotnya pendapatan bersih AMMN itu disebabkan karena larangan ekspor konsentrat yang berimbas pada minimnya penjualan tembaga dan emas pada kuartal I-2025. AMMN hanya membukukan penjualan tembaga dan emas masing-masing US$247.000 dan US$1,87 juta.

“Kami senang dapat melaporkan EBITDA yang solid pada kuartal I-2025, hasil ini mencerminkan kekuatan fundamental dan kinerja operasional perseroan,” kata CEO MEDC Roberto Lorato lewat keterangan resmi dikutip Sabtu (31/5/2025).

Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir 31 Maret 2025, MEDC mencatatkan pendapatan sebesar US$548,88 juta pada kuatal I-2025, lebih tinggi dari posisi periode yang sama tahun sebelumnya di angka US$544,17 juta.

Sementara itu pendapatan keuangan tercatat sebesar US$11,58 juta, susut dari akun periode yang sama tahun sebelumnya di angka US$12,22 juta.

Di sisi lain, MEDC mencatatkan beban pokok pendapatan dan biaya langsung lainnya sebesar US$331,19 juta, naik 2,3% dari beban periode yang sama tahun sebelumnya di angka US$323,75 juta.

Kendati demikian, MEDC mencatatkan EBITDA pada akhir kuartal I-2025 sebesar US$332 juta, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya. Sementara itu, kas dan setara kas pada akhir Maret 2025 sebesar US$876 juta.

Adapun, MEDC mencatatkan utang bersih sebesar US$2,1 miliar dengan rasio terhadap EBITDA menjadi 1,7 kali pada akhir kuartal I-2025, lebih baik dari posisi 1,8 kali pada akhir 2024.

“Kinerja pada kuartal pertama ini mencerminkan disiplin keuangan, ketahanan operasional dan komitmen MedcoEnergi terhadap pertumbuhan yang berkelanjutan,” kata Direktur Utama MEDC Hilmi Panigoro.

Dari sisi operasional, MEDC mencatatkan produksi minyak dan gas sebesar 143 mboepd, dipengaruhi penurunan musiman pada permintaan gas dan kegiatan pemeliharaan terjadwal di lapangan Senoro dengan biaya produksi kas per unit US$8,4 per boe.

Sementara itu, penjualan ketenagalistrikan terkoreksi ke level 871 GWh, lebih rendah dibandingkan dengan capaian penjualan 1.146 GWh pada kuartal IV-2024.

Koreksi itu disebabkan karena pemeliharaan PLTGU Riau, gempa bumi di dekat fasilitas geothermal Sarulla serta banjir di PLTS Sumbawa.

Dampak dari gangguan jangka pendek ini sebagian diimbangi oleh beroperasinya proyek geothermal Ijen Fase I berkapasitas 35 MW pada Februari 2025.

“Kami akan terus memperkuat portofolio usaha dan menangkap peluang baru untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” kata Hilmi.

(naw)

No more pages