Meski Buffett sudah lama menyatakan kekayaannya akan disumbangkan untuk amal setelah ia meninggal, sumbangannya tidak terlalu besar sepanjang kariernya. Donasi itu diberikan melalui yayasan yang ia dirikan pada tahun 1960-an, di mana kemudian ia ganti namanya menjadi nama mendiang sang istri, Susan.
Namun, pada tahun 2006, ia mengubah haluannya secara drastis, mengumumkan bahwa ia berniat menyumbangkan 85% kekayaannya, yang saat itu bernilai sekitar US$44 miliar, mulai tahun itu.
Saat itu, dia mengatakan sebagian besar donasinya, yang semuanya dalam bentuk saham Berkshire Hathaway, akan disumbangkan kepada yayasan filantropi raksasa milik temannya, Bill Gates, yaitu Gates Foundation. Sisanya akan disalurkan ke empat yayasan yang didirikan olehnya dan ketiga anaknya.
"Saya tahu apa yang ingin saya lakukan," katanya kepada Fortune pada saat itu, "dan masuk akal untuk mulai melakukannya."
Giving Pledge
Selama dua dekade terakhir, Buffett menghibahkan sahamnya secara berkala. Ia membentuk Giving Pledge pada tahun 2010 bersama Gates dan Melinda French Gates, yang mendorong orang-orang superkaya lainnya untuk berkomitmen menyumbangkan setidaknya separuh kekayaan mereka.
Nama-nama mereka di antaranya Elon Musk, Mark Zuckerberg, dan Larry Ellison, yang menulis bahwa "Warren Buffett secara pribadi meminta saya untuk menulis surat ini," dalam pernyataan mereka saat bergabung dalam Giving Pledge.
Saat mendirikan yayasan tersebut, Buffett meningkatkan taruhannya, berjanji akan menyumbangkan lebih dari 99% kekayaannya untuk kegiatan filantropi selama masa hidupnya atau setelah meninggal. Investor legendaris ini mengatakan dalam suratnya pada saat itu bahwa "saya dan keluarga saya tidak akan menyerahkan apa pun yang kami butuhkan atau inginkan dengan memenuhi janji 99% ini."
"Jika kami menggunakan lebih dari 1% cek klaim saya untuk diri kami sendiri," tulisnya dalam surat tersebut, mengacu pada saham Berkshire, "kebahagiaan maupun kesejahteraan kami tidak akan meningkat. Sebaliknya, 99% yang tersisa bisa memberi dampak yang sangat besar bagi kesehatan dan kesejahteraan orang lain."
Tahun lalu, dia menguraikan secara lebih rinci dalam suratnya kepada para pemegang saham Berkshire tentang apa yang akan terjadi pada sisa kekayaannya setelah dia meninggal. Ketiga anaknya; Howard, Peter dan Susie, akan ditugaskan untuk menyumbangkan sisa sahamnya, dan harus sepakat dengan suara bulat dalam setiap keputusan.
Secara terpisah, dia mengonfirmasi Gates Foundation, yang dewan direksinya mengundurkan diri pada tahun 2021, akan berhenti menerima hadiah setelah kematiannya. Pekan lalu, Gates mengumumkan ia berencana akan menggandakan donasi yayasannya dan menutupnya pada tahun 2045.
Buffett tidak pernah menyimpang terlalu jauh, baik secara fisik maupun spiritual, dari akar Nebraska-nya yang sederhana. Sebagai putra seorang politikus, ia mengantar koran dan menjual permen dari pintu ke pintu saat masih kecil untuk menyokong minatnya pada pasar saham dan investasi.
Ia menempuh pendidikan pascasarjana di Columbia University, di mana ia belajar di bawah bimbingan ekonom Ben Graham, bapak investasi nilai yang dielu-elukan.
Buffett mulai mengakuisisi saham Berkshire Hathaway, produsen tekstil, pada tahun 1962 dan mengubahnya menjadi kendaraan akuisisi untuk berburu investasi. Saat taruhannya terbukti, harga sahamnya naik, menghasilkan keuntungan lebih dari 5.500.000%. Buffett sempat menjadi orang terkaya di dunia pada tahun 2008.
Strategi investasinya diterapkan sebagai gaya hidupnya yang terkenal hemat, mulai dari hobinya (bridge, ukulele) hingga rumahnya, bergaya Kolonial Belanda tersusun dari batu bata dan semen yang dibelinya pada tahun 1958.
Kerajaannya juga unik karena konsentrasinya yang ekstrem. Lebih dari 99,5% kekayaannya terkait dengan saham Berkshire, menurut surat pemegang saham tahun 2024.
Tidak jelas berapa banyak modal non-filantropis yang ingin ia tinggalkan untuk anak-anaknya. Istrinya, Susan memberi mereka masing-masing US$10 juta melalui surat wasiatnya setelah ia meninggal pada tahun 2004, yang menurut Buffett adalah hadiah besar pertama yang ia berikan kepada mereka. Ia pernah menyebut kekayaan dinasti sebagai "musuh meritokrasi."
"Wasiat ini mencerminkan keyakinan kami, orang tua yang sangat kaya harus mewariskan anak-anak mereka secukupnya, sehingga mereka bisa melakukan apa saja. Namun, tidak cukup [warisan], mereka tidak bisa melakukan apa pun," tulis Buffett dalam surat pemegang saham, mengulangi pernyataan yang sering ia sampaikan selama hampir 40 tahun.
(bbn)





























