“Menyusun rincian dari kesepakatan dagang akan menjadi proses yang rumit dan memakan waktu. Untuk saat ini, China telah mendapatkan sedikit ruang bernapas—waktu yang berharga untuk mengembangkan industri teknologi tinggi dan memperkuat permintaan domestik guna mengurangi kerentanan ekonomi terhadap guncangan eksternal. Pada akhirnya, kemampuan China untuk mendorong konsumsi dan investasi akan menentukan arah pertumbuhan jangka panjang,” kata Chang Shu dan David Qu, ekonom dari Bloomberg Economics.
Pada Senin, negosiator dagang dari China dan AS mengumumkan kesepakatan untuk menurunkan tarif tambahan yang diberlakukan pada masa jabatan kedua Trump, melebihi ekspektasi. Secara umum, tarif China terhadap produk AS ditetapkan menjadi 10%, sementara tarif AS terhadap produk China turun menjadi 30% dalam periode 90 hari.
Sehingga, rata-rata tarif AS terhadap China turun dari sekitar 110% menjadi 40%, menurut estimasi Bloomberg Economics.
Gencatan tarif ini diperkirakan akan mendorong lonjakan ekspor China dalam beberapa bulan ke depan, karena importir AS bergegas mengisi kembali persediaan mereka dan mengantisipasi permintaan dengan melakukan pemesanan lebih awal.
“Ekspor China kemungkinan akan meningkat dalam 90 hari ke depan. Perkembangan ekspor setelah itu akan sangat bergantung pada arah perundingan dagang berikutnya,” ujar Zhou Mi, peneliti senior dari Chinese Academy of International Trade and Economic Cooperation, lembaga think tank di bawah Kementerian Perdagangan China.
Beijing, menurut Zhou, akan terus berupaya menurunkan tarif AS karena tarif saat ini masih “sangat tinggi.” Ia menyebut tarif tersebut sejak awal memang ditujukan khusus untuk China dan “tidak wajar dibandingkan dengan negara lain.”
Proyeksi JPMorgan didasarkan pada asumsi bahwa penurunan tarif sementara ini akan bertahan sepanjang tahun 2025, meskipun para ekonom mereka mengakui masih ada ketidakpastian terkait hasil akhir dari pembicaraan dagang.
Masih ada peluang bagi tarif 20% yang dikenakan AS terhadap produk terkait fentanyl asal China untuk diturunkan, apabila China menunjukkan komitmen serius dalam membatasi peredaran zat tersebut, menurut laporan JPMorgan yang ditulis oleh Zhu Haibin dan timnya, Senin.
“Di sisi lain, potensi tercapainya kesepakatan dagang penuh antara China dan AS sangat menantang dan mungkin memerlukan waktu jauh lebih lama dari 90 hari. Oleh karena itu, kita tidak bisa menutup kemungkinan bahwa ketegangan tarif bisa kembali meningkat,” tambah laporan tersebut.
Para analis dari lembaga keuangan besar lainnya, termasuk Citigroup Inc dan UBS Group AG, juga menyebut adanya potensi perbaikan dalam proyeksi ekonomi China menyusul pembicaraan dagang yang berlangsung di Jenewa.
(bbn)































