Zelenskiy juga menyatakan keyakinannya bahwa Presiden AS tidak keberatan menerapkan sanksi ekonomi tambahan terhadap Rusia, dan bahwa ada kemauan politik di Kongres AS untuk mengesahkan rancangan undang-undang sanksi baru.
Ia menambahkan bahwa konsultasi lebih lanjut terkait sanksi akan dilakukan dalam beberapa hari mendatang, meski belum mengungkapkan rincian. Sebelumnya, Bloomberg News melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah menyiapkan beberapa opsi untuk menambah tekanan ekonomi terhadap Rusia, apabila presiden memilih untuk melakukannya.
Zelenskiy menggambarkan paket sanksi AS terhadap Rusia yang direncanakan sebagai sesuatu yang “kuat dan sangat berbahaya.” Ia juga mengatakan bahwa Trump tidak menolak usulan Ukraina untuk mengirim bantuan militer tambahan sebagai sinyal tegas kepada Rusia bahwa mereka harus mengakhiri perang.
Zelenskiy menegaskan, jika pertemuan para pemimpin itu benar-benar terjadi, Ukraina akan berupaya maksimal untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata. Ia menambahkan bahwa sejauh ini tidak ada opsi format lain yang dibahas selain pertemuan langsung antar pemimpin.
Zelenskiy menyatakan dirinya akan bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ankara pada Kamis. Bila Putin hadir, ia dan Erdogan akan langsung menuju Istanbul untuk pelaksanaan pertemuan tersebut.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menyatakan bahwa Moskow siap untuk mengadakan pembicaraan serius di Istanbul. Namun, ia tidak merinci apakah Putin akan menghadiri pertemuan tersebut, menurut laporan Interfax.
“Jika Putin tidak datang, itu akan menjadi titik akhir dan bukti bahwa Rusia belum siap mengakhiri perang,” ujar Zelenskiy. Ia juga menyampaikan harapannya agar AS dan Uni Eropa menjatuhkan sanksi keras, terutama di sektor energi dan perbankan.
(bbn)






























