Sejak awal tahun hingga saat ini, lanjut Dudy, Bandara Kertajati juga masih terus beroperasi secara komersial, termasuk pelayanan umrah meski belum banyak.
Ke depan, Bandara tersebut juga akan terus dioptimalkan dengan penambahan pelayanan pengiriman cargo, perawatan pesawat, helikopter, hingga pelayanan lainnya.
"Kita juga mengupayakan beberapa strategi inovatif atau meningkatkan layanan khusus seperti penerbangan umroh, pemberian semacam konsesi untuk maskapai dengan rute tertentu, dan lain-lainnya," tutur dia.
Pangkas Biaya
Adapun, Dudy sebelumnya juga mengatakan pengembangan kawasan ini menjadi peluang lantaran hingga saat ini 46% pesawat maskapai nasional melakukan perawatan di luar negeri, yang berakibat pada pembengkakan biaya operasional.
Sekadar catatan, pengembangan itu akan dibangun Kertajati Aircraft Maintenance Center (KAMC) seluas 84,2 hektare yang merupakan bagian dari kawasan Kertajati Aerocity seluas 3.480 hektare, Indonesia akan memiliki basis perawatan pesawat terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi.
"Kami di Kementerian Perhubungan siap mendukung penuh, termasuk dalam hal konektivitas transportasi dan penyelarasan kebijakan lintas sektor,” kata Dudy.
Ke depan, kata dia, kawasan tersebut juga akan dilengkapi dengan terminal penumpang, kawasan komersial, e-commerce hub, serta konektivitas antarmoda. Proyek ini diharapkan menjadi magnet investasi global dan pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat dan Indonesia secara umum.
Pada 2020, Bandara BIJB Kertajati, yang menelan anggaran pembangunan hingga Rp2,6 triliun itu resmi berhenti beroperasi, setelah sekian lama beroperasi namun sepi pengunjung yang juga akibat Pandemi Covid-19.
Kemudian pada pertengahan 2023, Bandara kembali beroperasi dengan sejumlah penerbangan reguler, penerbangan haji, hingga pengangkatan barang kargo.
(ain)






























