Logo Bloomberg Technoz

Berikut proyeksi harga emas dari sejumlah lembaga keuangan, sebagaimana dirangkum dari Bloomberg News.

  1. Goldman Sachs

Goldman Sachs memperkirakan harga emas pada akhir 2025 bisa mencapai US$ 3.700/troy ons. Naik dibandingkan proyeksi sebelumnya yaitu US$ 3.300/troy ons.

“Dalam skenario yang sangat ekstrem, harga emas bisa mendekati US$ 4.500/troy ons pada akhir 2025,” sebut riset Goldman Sachs.

Jika dikonversikan, maka 1 troy ons setara dengan sekira 31 gram. Sementara dengan mengacu kepada kurs tengah Bank Indonesia (BI) tertanggal 22 April, US$ 1 ekuivalen Rp 16.862.

Jadi, kalau benar harga emas mencapai US$ 4.500/troy ons pada akhir 2025 maka itu akan setara dengan sekitar Rp 2,45 juta/gram.

  1. JPMorgan

JPMorgan memperkirakan harga emas akan menembus level US$ 4.000/troy ons pada tahun depan. Untuk akhir tahun ini, JPMorgan meramal harga emas bisa berada di rata-rata US$ 3.675/troy ons.

Ketika harga emas benar menyentuh US$ 3.675/troy ons pada kuartal IV-2025, maka itu setara dengan sekitar Rp 2 juta/gram.

“Latar belakang proyeksi kami bahwa harga emas menuju US$ 4.000/troy ons tahun depan adalah tingginya minat investor dan bank sentral. Permintaan emas bisa mencapai rata-rata 710 ton per kuartal tahun ini,” sebut riset JPMorgan.

  1. Bank of America (BofA)

BofA menaikkan perkiraan harga emas tahun ini menjadi rata-rata US$ 3,065/troy ons. Sebelumnya, proyeksi ada di US$ 2.750/troy ons.

Dengan asumsi seperti di atas, maka BofA memperkirakan rerata harga emas tahun ini ada di sekitar Rp 1,7 juta/gram.

Jika permintaan emas naik 10%, maka BofA memperkirakan rata-rata harga emas bisa mencapai US$ 3.500/troy ons dalam 2 tahun ke depan. Artinya, harga naik menjadi Rp 1,9 juta/gram.

  1. UBS

UBS memperkirakan harga emas bisa menuju US$ 3.500/troy ons pada 2025. Artinya, ada potensi harga bisa mengarah ke Rp 1,9 juta/gram.

“Menambah kepemilikan emas menjadi menarik dengan situasi saat ini. Ada ketidakpastian terkait kebijakan tarif bea masuk, pelemahan ekonomi, peningkatan inflasi, dan risiko geopolitik,” sebut riset UBS.

(aji)

No more pages