Logo Bloomberg Technoz

Seperti yang diwartakan Bloomberg News, Kenaikan tarif ini dilakukan sebagai respons AS terhadap pembalasan dari Negara Tirai Bambu tersebut.

Tarif baru ini tercantum dalam perintah eksekutif yang menjelaskan tarif balasan yang diumumkan pada 2 April lalu. Gedung Putih mengunggah lembar fakta perintah tersebut ke situs resminya pada Selasa 15 April di malam waktu setempat.

“China sekarang menghadapi tarif impor ke Amerika Serikat sebesar 245% sebagai akibat dari tindakan pembalasannya,” kata Gedung Putih.

China sebelumnya menaikkan tarif impor barang-barang AS menjadi 125% pada Jumat lalu sebagai langkah balas dendam kepada pemerintah Donald Trump, yang menambah tarif barang-barang China dari 145% menjadi 245%, dengan catatan penting itu, perang dagang memanas.

Yang terbaru, Gubernur Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell memperingatkan bahwa perang dagang dapat mengancam target Bank Sentral dalam hal lapangan kerja dan inflasi.

Powell memberi sinyal dengan jelas Bank Sentral akan bersikap hati-hati terhadap serangan tarif Donald Trump—membuyarkan harapan bahwa The Fed akan cepat bertindak meredakan kegelisahan investor.

Saat berbicara di Economic Club of Chicago dan ditanya apakah ia membayangkan adanya “Fed Put” (Intervensi Bank Sentral) untuk menenangkan pasar, Powell menjawab, “Tidak,” seraya menambahkan masih banyak pertanyaan soal dampak kebijakan Trump.

Tim Research Phillip Sekuritas dalam risetnya menyebut sentimen pasar terus tertekan oleh kekhawatiran mengenai kebijakan tarif perdagangan Pemerintah AS.

Bilateral US-China Tariffs Have Spiked. (Sumber: Bloomberg)

“Rilis data resmi sejumlah data ekonomi China hari ini memberikan gambaran awal mengenai bagaimana kekhawatiran perang dagang mempengaruhi pemulihan ekonomi China yang masih rapuh setelah berada di bawah tekanan dari konsumsi yang semakin melemah dan krisis utang di pasar properti,” mengutip riset harian Tim Research Phillip Sekuritas.

Pemerintah China juga mengeluarkan peringatan pertumbuhan ekonomi mereka akan menghadapi sejumlah tekanan dari serangan perdagangan Presiden Donald Trump.

Analis Phintraco Sekuritas memaparkan, AS berencana kembali menaikan tarif impor menjadi 245% untuk produk asal China. Meski demikian, China masih belum membuka peluang negosiasi dengan AS.

“Wall Street juga tertekan oleh pandangan Kepala The Fed, Jerome Powell terkait outlook inflasi. Kebijakan tarif dari Pemerintah AS meningkatkan risiko kenaikan inflasi. Kondisi ini mempersempit ruang pemangkasan suku bunga acuan The Fed,” jelas Phintraco.

Mencermati itu, Phintraco, IHSG diperkirakan lanjutkan fluktuasi dalam rentang support–resistance 6.300–6.500, dengan kecenderungan melemah ke kisaran 6.350–6.375 di Kamis.

Secara teknikal, indikasi overbought pada Stochastic RSI memperbesar peluang pullback lanjutan tersebut.

Phintraco memberikan rangkuman rekomendasi saham hari ini meliputi MAPI, MTEL, KLBF, JSMR, dan PSAB.

Sama halnya, Analis BRI Danareksa Sekuritas memaparkan, secara trend jangka panjang, IHSG masih berada dalam trend bearish. Perdagangan sebelumnya, IHSG melemah -0,66%.

“Net Foreign Sell masih terjadi, waspadai penurunan hingga level support pada 6.309. Sementara level resistance berada pada 6.511,” mengutip paparan BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya pada Kamis (17/4/2025).

Bersamaan dengan risetnya, BRI Danareksa memberikan rekomendasi saham hari ini, BBTN dan ANTM.

(fad)

No more pages