Sejauh ini hanya tenor 16Y dan 20Y saja yang masih naik yield-nya masing-masing sebesar 4,8 bps dan 0,8 bps di 7,280% dan 7,073%.
Bukan hanya SUN dalam denominasi rupiah saja yang banyak diburu hari ini. SUN dalam mata uang dolar AS, atau INDON, juga melesat harganya ditandai dengan penurunan yield terutama tenor lebih panjang.
INDON-10Y turun yield-nya 8,7 bps kini di 5,350%, bersama yield INDON-5Y yang turun 7,9 bps kini di 4,899%.
Reli saham dan surat utang di pasar domestik sejak Senin kemarin, bahkan berlangsung ketika rupiah kembali tergerus hari ini akibat kebangkitan indeks dolar AS di pasar global.
Rupiah spot siang ini melemah di Rp16.813/US$, sedangkan rupiah NDF di pasar offshore terpantau melemah juga di kisaran Rp16.829/US$. Indeks dolar AS terpantau masih stabil di 99,73, menguat tipis dibanding kemarin.
Reli harga surat utang pemerintah RI yang berlangsung sejak kemarin, agaknya juga mengikuti dinamika yang terjadi di pasar obligasi global juga. US Treasury mencatat reli juga ditandai dengan penurunan yield di hampir semua tenor.
Mengacu data Bloomberg, pada sesi Asia jelang tengah hari ini, yield UST-2Y sudah turun 10,9 bps kini di 3,851%. Sedangkan tenor 5Y bahkan turun 15,5 bps dan 10Y turun 13,9 bps kini di 4,350%.
Pelaku pasar keuangan global masih mencermati perkembangan seputar kebijakan tarif Trump. Pengecualian bea masuk untuk beberapa jenis barang seperti otomotif dan suku cadang, cukup melegakan pasar.
Meski beberapa jenis barang masih ditimbang untuk dikenakan bea masuk seperti cip semikonduktor dan obat-obatan.
Berkibar tanpa asing
Yang menarik, reli harga saham dan surat utang di pasar keuangan Indonesia sejak kemarin bahkan terjadi ketika investor asing terus melakukan penjualan aset rupiah.
Berdasarkan laporan Bank Indonesia, selama perdagangan pada pekan pertama setelah libur panjang Lebaran lalu, yaitu periode 8-10 April, pemodal asing membukukan posisi jual bersih sebesar Rp24 triliun.
Itu menjadi nilai outflows mingguan yang besar dibanding pekan-pekan sebelumnya. Nilai penjualan terbesar oleh investor asing terjadi di pasar Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), senilai Rp10,47 triliun pada periode tersebut.
Disusul penjualan di pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai nett Rp7,84 triliun dan di pasar saham sebesar Rp5,73 triliun.
Aksi jual pemodal asing di pasar saham berlanjut pekan ini. Dalam perdagangan hari Senin kemarin, asing membukukan net sell sebesar Rp2,31 triliun, menandai posisi net sell selama 5 hari perdagangan beruntun.
Sedangkan di pasar surat utang, posisi kepemilikan SBN oleh investor asing melorot jadi Rp887,56 triliun per 11 April lalu. Angka itu berkurang Rp5,97 triliun hanya dalam tiga hari saja.
Ada dugaan, terus berlanjutnya reli saham dan obligasi ketika investor asing terus melanjutkan penjualan adalah karena dukungan 'dana besar' lokal yang mulai masuk.
Hal itu disinggung oleh Bahana Sekuritas pekan lalu di mana adanya SRBI yang jatuh tempo senilai Rp403 triliun, kemungkinan akan menjadi limpahan likuiditas segar di pasar terutama di pasar saham.
"Diskusi kami baru-baru ini dengan dana pensiun terbesar yaitu BPJS Ketenagakerjaan [Jamsostek] mengonfirmasi bahwa kepemilikan SRBI mereka yang jatuh tempo akan secara bertahap diinvestasikan lagi ke dalam ekuitas sebagai bagian dari dari komitmen jangka menengah mereka mendukung IHSG," kata Satria Sambijantoro, Head of Research Bahana Sekuritas.
Emas juga diburu
Masyarakat pemilik modal di Indonesia juga bukan hanya memburu saham serta obligasi negara di tengah ketidakpastian di pasar global yang masih besar.
Emas juga jadi buruan seiring dengan pecahnya rekor komoditas logam mulia berharga itu.
Marak beredar video amatir warganet yang merekam masyarakat pemodal menyerbu butik-butik penjual emas batangan merek Aneka Tambang (Antam) di pusat-pusat belanja.
Harga emas Antam sempat menembus level rekor termahal dalam sejarah pada pekan lalu di Rp1.904.000 per gram.
Harganya saat ini terkoreksi kemungkinan karena aksi profit taking dan dipengaruhi juga oleh pergerakan emas di pasar global.
Pada hari ini, harga emas Antam stagnan di Rp1.896.000 per gram, sedangkan harga buyback turun sedikit jadi Rp1.745.000 per gram.
(rui/hps)































