Logo Bloomberg Technoz

Wakil Kepala BSSN Komjen Pol Albertus Rachmad Wibowo menyampaikan promosi yang 'too good to be true' harus diwaspadai sebagai penipuan. Publik diminta lebih cermat dan segera memeriksa pengirim dari SMS dan WhatsApp yang makin marak jelang Lebaran 2025.

"Modus ini cukup canggih, karena dia bisa melakukan masking sehingga korban tidak menyadari bahwa itu tidak valid karena dia menggunakan nomor HP dan domain-domain yang valid," jelas dia. Selanjutnya pengguna ponsel juga dapat memerhatikan link URL dari sindikat penipuan online dan jangan terburu-buruk klik.

"Ketika diklik, modus ini menyambungkan device [perangkat] yang digunakan oleh masyarakat ke sebuah server yang sudah menyiapkan tampilan yang mirip dengan perbankan," ungkap dia.

Sebelumnya, Menteri Komdigi Meutya Hafid juga telah menyatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap laporan dari masyarakat terkait maraknya SMS penipuan yang dikirim bukan oleh operator seluler resmi.

"Kami telah memerintahkan Ditjen Infrastruktur Digital mengambil sejumlah langkah untuk menangani kasus ini. Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio (Balmon SFR) juga sudah dikerahkan guna memantau dan melacak sumber sinyal frekuensi radio ilegal yang digunakan para pelaku," kata Meutya dalam pernyataan resminya. 

Dari hasil investigasi awal, ditemukan adanya perangkat BTS ilegal yang dengan sengaja memancarkan sinyal. Fake BTS beroperasi pada frekuensi milik salah satu operator, namun tidak terdaftar sebagai BTS resmi dalam jaringan. Isi pesan adalah penipuan berupa berbagai penawaran.

Komdigi mendesak operator seluler untuk meningkatkan keamanan jaringan mereka, termasuk memperkuat sistem deteksi dini terhadap aktivitas frekuensi radio yang mencurigakan seperti fake BTS. Pemeirntah imbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap SMS mencurigakan dan selalu mengecek kebenaran informasi yang diterima.

(wep)

No more pages