Logo Bloomberg Technoz

Gedung Putih mendorong berbagai perubahan kebijakan yang berpotensi mengganggu industri perangkat keras komputer. Penerapan tarif impor akan membuat pusat manufaktur seperti China menjadi lebih mahal dan dapat mengganggu rantai pasokan global. Perusahaan teknologi juga meminta kejelasan mengenai kemungkinan pembatasan ekspor teknologi canggih untuk pusat data kecerdasan buatan (AI), yang saat ini sedang dibangun di berbagai belahan dunia.

Trump berjanji akan menepati janji kampanyenya untuk memberlakukan tarif pada mitra dagang utama, yang menurutnya diperlukan guna menyeimbangkan ketimpangan perdagangan yang dinilainya tidak adil. Kebijakan ini akan mempersulit industri elektronik yang selama ini bergantung pada rantai pasokan global untuk mencapai efisiensi maksimal.

Pemerintah AS saat ini sedang menyusun rencana aksi AI untuk “mempertahankan dan meningkatkan” kepemimpinan Amerika di bidang tersebut, serta meminta masukan publik mengenai upaya ini.

Trump juga meminta Kongres mencabut Chips Act 2022, undang-undang bipartisan yang menyediakan insentif miliaran dolar bagi perusahaan seperti Intel dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC).

“Chips Act kalian itu adalah kebijakan yang sangat buruk,” kata Trump dalam pidatonya di depan Kongres pada Selasa (04/03/2025). Ia mendesak Ketua DPR Mike Johnson untuk membatalkan undang-undang tersebut. Namun, Pemimpin Mayoritas Senat dari Partai Demokrat Chuck Schumer, yang merancang undang-undang itu, memprediksi bahwa permintaan Trump akan gagal.

Secara terpisah, Trump mengadakan acara pekan ini dengan TSMC, di mana produsen semikonduktor tersebut berjanji menginvestasikan tambahan US$100 miliar (setara Rp1.549 triliun) untuk pabrik di AS. Pemerintah menyebut kesepakatan ini sebagai bukti bahwa negara tersebut dapat menarik investasi dengan tarif impor, bukan melalui insentif seperti Chips Act.

(bbn)

No more pages