Logo Bloomberg Technoz

Setia mengelaborasi bahwa pada 18 Januari 2025, PT GNI melakukan kebijakan pergantian atau serah terima manajemen perusahaan.

“Kebijakan ini memengaruhi pada istilahnya raw material [pasokan bijih nikel], pemilihan raw material, yang mana manajemen yang baru ini konsen untuk memilih material yang memiliki standar lebih baik, lebih tinggi,” ujarnya.

Sejak pergantian manajemen pada awal tahun tersebut, kata Setia, PT GNI memang melakukan penyesuaian produksi menjadi 30%—40% dari kapasitas terpasang smelter mereka, atau dari 25 lini produksi menjadi hanya 12 lini yang terpakai.

“Namun, [aktivitas produksi PT GNI] ini akan normal lagi April. Nah, selama masa transisi ini, dilakukan untuk pengembangan kapasitas karyawan. Ini insyallah akan normal lagi pada April 2025,” tegas Setia.

“Jadi pure sebenarnya masalah itu bukan kenapa-kenapa, bukan tidak kondusif, bukan apa-apa. Bukan karena relaksasi segala macam, bukan. Namun, memang karena adanya manajemen yang baru sekarang ini lebih selektif intinya untuk pemilihan raw material.”

PT GNI, yang berafiliasi dengan raksasa baja nirkarat Jiangsu Delong, sebelumnya disebut-sebut menunda pembayaran kepada pemasok energi lokal dan tidak dapat memperoleh bijih nikel, menurut orang-orang yang mengetahui situasi tersebut kepada Bloomberg.

Smelter PT GNI tersebut kemungkinan akan segera menghentikan produksi jika situasi terus berlanjut, kata orang-orang tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena masalah tersebut sensitif.

Harga nikel global hampir turun setengahnya sejak akhir 2022 karena produksi Indonesia yang sedang meningkat memaksa tambang dan pabrik di tempat lain untuk tutup.

Namun, sekarang bahkan pabrik peleburan di negara Asia Tenggara ini — yang biasanya mendapat keuntungan dari biaya energi dan tenaga kerja yang lebih rendah — merasakan tekanan.

Pasokan bijih bagi industri smelter di Indonesia juga telah ketat selama hampir setahun karena kurangnya kuota penambangan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Hal itu memperburuk kesulitan Gunbuster, yang sudah menderita akibat kejatuhan induknya Delong. Konglomerat China itu — yang dimiliki oleh Dai Guofang dan keluarganya — adalah salah satu investor awal di industri peleburan nikel Indonesia, tetapi dipaksa melakukan restrukturisasi oleh pengadilan China tahun lalu.

Bisnisnya telah menderita akibat perlambatan ekonomi China dan persaingan ketat dari Tsingshan Holding Group, yang juga memiliki operasi besar di Indonesia.

Delong, pemerintah daerah Xiangshui, dan firma hukum King & Wood Mallesons, yang ditunjuk sebagai manajer yudisial untuk restrukturisasi tersebut, tidak dapat segera mengomentari masalah tersebut.

Konstruksi proyek nikel PT Gunbuster Nickel Industry (dok. GNI)

Gunbuster, yang mampu memproduksi 1,8 juta ton bijih kasar nikel per tahun, disebut telah menutup semua kecuali beberapa dari lebih dari 20 jalur produksinya sejak awal tahun, kata orang-orang itu.

Sekelompok pejabat pemerintah dan pengacara China yang ditunjuk oleh pengadilan di Kabupaten Xiangshui, provinsi Jiangsu, telah mengambil alih firma tersebut sebagai bagian dari proses restrukturisasi Delong, kata dua orang yang mengetahui masalah tersebut.

Presiden Indonesia saat itu, Joko Widodo, yang berperan penting dalam menarik lebih banyak investasi asing ke industri nikel di nusantara, menghadiri peresmian pabrik peleburan tersebut pada 2021. Gunbuster mengatakan saat itu bahwa pihaknya berencana untuk menginvestasikan US$3 miliar di pabrik tersebut.

Skalanya yang sangat besar menjadikannya salah satu dari sedikit pesaing Tsingshan Holding Group di negara tersebut, yang pabrik peleburannya sebagian besar terkonsentrasi di kawasan industri besar yang dibangun khusus.

-- Dengan asistensi Mis Fransiska Dewi

(wdh)

No more pages