Para investor terindikasi meminta yield sedikit lebih tinggi di mana untuk tenor 12 bulan, rata-rata permintaan yield di kisaran 6,50% naik sedikit dibanding sebelumnya 6,49%. Sementara tenor 6 bulan dan 9 bulan, yield rata-rata yang diminta adalah 6,39% dan 6,47% dibandingkan 6,37% dan 6,41%.
BI akhirnya memenangkan penawaran yang masuk senilai Rp8 triliun, tidak berubah dibanding lelang sebelumnya.
Rupiah spot pada satu jam sebelum penutupan pasar hari ini semakin tenggelam menyentuh Rp16.592/US$, melampaui level terlemah yang pernah tercatat pada pandemi lima tahun lalu di kisaran Rp16.575/US$.
Kejatuhan rupiah terjadi bersamaan dengan kemerosotan IHSG yang makin dalam di mana sampai siang hari ini indeks saham telah ambles lebih dari 2%. Itu juga mencerminkan penurunan IHSG hingga 20% dari level tertingginya yang pernah tersentuh pada September lalu.
Bank Indonesia sudah berjaga di pasar dan agresif mengintervensi kejatuhan rupiah di pasar.
"Kami masuk ke pasar dengan berani untuk mempertahankan supply demand valas untuk menjaga kepercayaan apsar," kata Edi Susianto, Direktur Eksekutif Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia.
Modal asing 'kabur'
Dalam sebulan terakhir, asing telah melepas posisi di saham domestik senilai US$ 446,3 juta atau sekitar Rp7,34 triliun dengan kurs dolar AS saat ini.
Bila menghitung sejak posisi akhir tahun lalu, dana asing sudah keluar dari pasar saham Indonesia senilai US$ 1,16 miliar atau sekitar Rp19,3 triliun.
Adapun di SRBI, mengacu data terakhir yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia, sepanjang tahun ini hingga data setelmen 20 Februari, asing mencatat posisi beli neto di SRBI sebesar Rp3,23 triliun.
Dibandingkan dengan posisi pada akhir Januari lalu yang masih sebesar Rp12,93 triliun, terdapat penurunan posisi investor asing di SRBI sebesar Rp9,7 triliun selama bulan ini hingga 20 Februari lalu.
Di pasar surat utang, minat asing masih lebih bertahan. Mengacu data Kementerian Keuangan RI yang dilansir terakhir pada 26 Februari, kepemilikan asing di SBN mencapai Rp892,81 triliun. Angka itu bertambah sekitar Rp11,52 triliun dibanding posisi akhir Januari (point-to-point).
(rui)


























