Logo Bloomberg Technoz

“Perekonomian di Asia Pasifik performanya cukup mixed. China sedikit melambat, dan ada risiko melambatnya lebih dalam lagi. Di sisi lain, negara-negara seperti Vietnam dan Filipina tumbuh cukup stabil. India cukup tinggi 7%," terangnya.

"Pada saat ini sih sebenarnya kalau dilihat dari pertumbuhan riilnya, Indonesia itu masih tumbuh lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara middle-income. Jadi ketika tumbuh 5%, rata-rata negara middle-income itu tumbuh sekitar 4,6%. Namun, kalau dilihat, ya pasti tiap negara memiliki tantangan-tantangan tersendiri.”  

Revitalisasi Industri

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Gaffari Ramadhan mengatakan dalam 5 tahun terakhir, perekonomian Indonesia memang lebih banyak didorong oleh industri berbasis komoditas yang cenderung padat modal.

“Menarik memang menyikapi tagar #KaburAjaDulu. Memang commodity-based industry ini cukup bisa membantu mendorong ekspor, misalnya melalui hilirisasi di nikel, tetapi memang tidak menciptakan banyak lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Dalam kaitan itu, Gaffari tidak menampik kinerja industri-industri padat karya yang bisa menyerap banyak tenaga kerja belum bisa menyamai rekor pertumbuhan seperti rata-rata sebelum pandemi. 

Melihat fenomena ini, DEN mulai memetakan industri-industri mana yang masih bisa diandalkan untuk penciptaan banyak lapangan kerja. DEN, kata Gaffari, bahkan berkonsultasi dengan ekonom Turki Dani Rodrik untuk mencari jalan tengah atas isu tersebut.

“Sebenarnya sektor industri yang old manufacturing itu yang lebih banyak create jobs, kayak industri tekstil dan produk tekstil [TPT] itu kan industri-industri awal revolusi industri, yang menyerap banyak tenaga kerja. Kemudian, yang high-tech manufacturing sendiri mungkin memang bisa complement dengan mendorong industri, tetapi tidak create banyak lapangan pekerjaan,” terangnya.

Gaffari menyebut Indonesia bisa belajar dari Vietnam yang sama-sama memiliki misi menjadi negara maju pada 2045. Dalam hal ini Vietnam telah bersiap naik kelas menjadi negara berbasis manufaktur berteknologi tinggi.

Pada saat bersamaan, Negeri Paman Ho itu tetap mempertahankan demografi di pasar kerja mereka yang masih membutuhkan industri-industri yang bisa menyerap  tenaga kerja sesuai keahlian masing-masing. 

“Jadi kita sekarang kita sedang melihat kembali, apa yang bisa dilakukan untuk merevitalisasi industri-industri yang bisa create banyak jobs,” ujarnya.

Di tengah riuh tagar #KaburAjaDulu, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi menanggapi fenomena tersebut tidak perlu dipermasalahkan. Namun, dia berpesan bahwa setiap warga negara Indonesia (WNI) yang hendak merantau ke luar negeri harus memiliki keahlian khusus.

"Kalau mau merantau itu bagus loh. Kalau mau merantau. Namun, kalau mau merantau ke luar negeri ingat, harus punya skill [kemampuan]. Kalau tidak punya skill, nanti tidak bisa punya pekerjaan baik di luar negeri," ujar Hasan kepada wartawan, Senin (17/2/2025).

Selain itu, Hasan juga mengingatkan bahwa warga yang ingin kabur ke luar negeri harus juga taat prosedur. "Supaya tidak jadi pendatang haram. Kalau orang mau merantau, tidak boleh dilarang," ujarnya.

 -- Dengan asistensi Dovana Hasiana

(wdh)

No more pages