Logo Bloomberg Technoz

Pelemahan mata uang Asia yang juga menyeret rupiah pagi ini kemungkinan karena komentar terbaru pejabat Federal Reserve Christopher Waller.

Waller, melansir Bloomberg, menyatakan, data ekonomi AS sejauh ini masih mendukung ditahannya Fed fund rate. Data inflasi yang dilansir pekan lalu, menurut pejabat The Fed, terbilang agak mengecewakan hingga memperkuat perkiraan bahwa inflasi PCE yang baru akan diumumkan nanti akan kembali membunyikan alarm.

Analisis teknikal

Rupiah pagi ini telah menembus level support terdekat di Rp16.250/US$ dan selanjutnya akan menuju Rp16.300/US$ bila pelemahan berlanjut.

Rupiah memiliki support terkuat ada di level Rp16.400/US$.

Rupiah memiliki level resistance di Rp16.180/US$ yang menjadi resistance terdekat sebelum break resistance selanjutnya dengan target di Rp16.150/US$ sampai dengan Rp16.100/US$.

Apabila kembali berhasil break resistance tersebut, rupiah berpotensi menguat lanjutan dengan menuju level Rp16.000/US$ sebagai resistance potensial.

Sentimen positif

Sejatinya rupiah memiliki cukup banyak sentimen positif dari perkembangan di dalam negeri.

Arus masuk modal asing mulai kembali di pasar saham pada awal pekan, setelah membukukan penjualan berturut-turut dalam 10 hari perdagangan.

Pada perdagangan Senin kemarin, asing membukukan net buy saham Rp1,07 triliun, yang menjadi pembelian sehari terbesar sejak 17 Oktober lalu. Di pasar surat utang negara, pergerakan yield juga cenderung turun di awal pekan di mana SUN 10Y kini ada di 6,751% dan 2Y ada di 6,484% seperti dilansir dari data Bloomberg.

Rupiah juga akan mendapatkan sokongan positif dari aturan baru terkait Devisa Hasil Ekspor.

Presiden Prabowo Subianto telah meneken Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025 yang mewajibkan eksportir menyimpan 100% DHE di dalam negeri selama 12 bulan. 

Kebijakan tersebut adalah revisi dari PP 36 Tahun 2023 yang sebelumnya mewajibkan penempatan hanya 30% DHE selama tiga bulan.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, aturan baru DHE itu bisa membantu rupiah lebih stabil menyusul pasokan valas lebih banyak di dalam negeri.

Selain itu, sentimen positif juga datang dari kinerja perdagangan RI pada Januari. Surplus neraca dagang melejit mencapai US$ 3,45 miliar, jauh melampaui dugaan pasar di angka US$ 1,77 miliar dan melompat dari capaian bulan sebelumnya sebesar US$ 1,24 miliar.

(rui)

No more pages