Logo Bloomberg Technoz

Kementerian Perdagangan setempat mengeluarkan pernyataan yang menyatakan "Ketidakpuasan" yang kuat dan berjanji akan melakukan "Tindakan balasan yang sesuai," sambil mengatakan bahwa China akan mengajukan keluhan ke Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organisation/WTO).

Seperti yang diwartakan Bloomberg News, langkah awal dalam perang dagang terbaru antara AS dan China menunjukkan pendekatan yang lebih hati-hati dari Presiden Xi Jinping dibandingkan respons pada periode pertama Donald Trump. Sebelumnya AS memberikan pengecualian tarif bagi Kanada dan Meksiko, tarif 10% untuk produk China resmi berlaku pada Selasa.

Beijing segera membalas dengan memberlakukan tarif tambahan terhadap sekitar 80 produk asal AS yang mulai berlaku pada 10 Februari. Namun, investor berharap adanya negosiasi yang dapat meredakan ketegangan.

“Ada kemungkinan dampak tarif ini akan lebih kecil dari yang diperkirakan,” ujar Todd Ahlsten dari Parnassus Investments. “Tarif ini bisa saja menjadi langkah awal dari negosiasi yang pada akhirnya dapat mengurangi dampaknya.”

Pasar masih mengantisipasi kejutan-kejutan lanjutan terkait perang tarif negara-negara besar, meski meyakini aksi berbalas tarif itu sejatinya adalah bagian dari proses negosiasi untuk tujuan lebih besar. Hingga saat ini, langkah China masih relatif terkendali.

“Saya masih percaya tarif Trump ini hanya alat tawar-menawar, dan ada alasan kuat bahwa China tertarik untuk bernegosiasi,” kata Christopher Wong, analis di Oversea-Chinese Banking Corp.

“Jika ada tanda-tanda bahwa Xi dan Trump melakukan pembicaraan yang baik atau ada komitmen untuk mencapai kesepakatan, maka ini bisa menjadi gencatan senjata sementara yang positif bagi sentimen pasar.”

Donald Trump. (Bloomberg)

Semalam, data pembukaan lapangan kerja AS terbaru berhasil menyentuh level terendah tiga bulan.

Data tersebut memberi dukungan lebih besar pada Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed), bahwa pasar tenaga kerja di negeri itu saat ini tidak lagi menjadi sumber tekanan inflasi. Sentimen positif itu, yang bisa memperkuat prospek penurunan suku bunga acuan The Fed.

Analis Phintraco Sekuritas memaparkan, realisasi U.S. JOLTs Job Openings (7,6 juta) di Desember 2024 berada jauh di bawah perkiraan (8,01 juta) dan turun dari 8,16 juta di November 2024. 

“Pasar meyakini pelemahan sektor tenaga kerja ini akan melunakkan stance The Fed terhadap arah kebijakan suku bunga acuan,” mengutip riset Phintraco.

Menyinggung perang dagang 2.0, perkembangan di atas memperkuat pandangan sejumlah pelaku pasar bahwa kebijakan tarif merupakan salah satu alat negosiasi yang digunakan oleh Pemerintah AS untuk mencapai target utama atau “greater deal” bagi AS. Kondisi ini yang membangun keyakinan bahwa “Trade Wars 2.0” akan cenderung bersifat temporer.

Secara Teknikal, IHSG catat technical rebound di Selasa, namun terdapat upper-shadow panjang. Pola ini mengindikasikan kecenderungan fluktuasi IHSG di rentang 6.950–7.150 untuk beberapa waktu kedepan.

Phintraco memberikan rangkuman rekomendasi saham hari ini meliputi BRPT, MAIN, BRIS, INDF, dan ADRO

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas memaparkan, rebound IHSG masih tertahan resisten MA-20. 

“Trend masih turun, penguatan masih bersifat sementara,” mengutip paparan BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya pada Rabu (5/2/2025).

BRI Danareksa juga memberikan catatan, waspadai potensi penurunan lebih dalam jika IHSG kembali turun di bawah support 6.931.

Bersamaan dengan risetnya, BRI Danareksa memberikan rekomendasi saham hari ini, BTPS, PTBA, PTRO, dan RAJA.

(fad)

No more pages