Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, arus jet stream yang sangat kuat dan badai yang terjadi di sekitar area tersebut juga menjadi pemicu utama. Bahkan, suhu udara yang meningkat dapat menyebabkan turbulensi udara bersih yang cepat dan mendalam, yang sering kali tidak terlihat sebelumnya oleh pilot dan penumpang.

Rute Penerbangan dengan Turbulensi Paling Tinggi pada Tahun 2024

25 Maskapai Penerbangan Terbaik di Dunia (Bloomberg Technoz/Asfahan)

Setelah menganalisis lebih dari 10.000 rute penerbangan yang menghubungkan sekitar 550 bandara terbesar di dunia, para ahli menemukan beberapa rute yang paling sering mengalami turbulensi pada tahun 2024. Di bawah ini adalah daftar rute-rute penerbangan yang tercatat memiliki tingkat turbulensi yang lebih tinggi.

1. Mendoza (MDZ) - Santiago (SCL)

Rute penerbangan antara Mendoza di Argentina dan Santiago di Chile menjadi yang paling rentan terhadap turbulensi. Dengan jarak sekitar 196 kilometer, penerbangan ini melintasi pegunungan Andes, yang dikenal dengan kondisi geografis yang menyebabkan gangguan besar terhadap aliran udara.

2. Kordoba (COR) - Santiago (SCL)

Rute ini juga menghubungkan dua kota utama di Argentina dan Chile dan terletak dekat dengan pegunungan Andes, yang sering menimbulkan turbulensi akibat pergerakan udara yang tidak stabil di daerah pegunungan.

3. Mendoza (MDZ) - Salta (SLA)

Dengan melintasi pegunungan yang sama, rute ini sering kali mengalami turbulensi yang cukup kuat, terutama pada kondisi cuaca buruk atau saat suhu udara meningkat secara signifikan.

4. Mendoza (MDZ) - San Carlos de Bariloche (BRC)

Rute ini menghubungkan Mendoza dengan Bariloche, sebuah kota di Argentina yang terletak di kawasan pegunungan Andes, yang berpotensi menyebabkan turbulensi yang lebih parah pada saat terbang.

5. Kathmandu (KTM) - Lhasa (LXA)

Terletak di Asia, rute ini menghubungkan Nepal dengan Tibet. Pegunungan Himalaya yang besar dan tinggi menjadi penyebab utama terjadinya turbulensi di sepanjang jalur ini, yang dapat menciptakan gangguan aliran udara yang kuat.

6. Chengdu (CTU) - Lhasa (LXA)

Sebagai rute penerbangan lainnya yang melewati pegunungan Himalaya, penerbangan ini mengalami turbulensi yang cukup parah karena kondisi geografis dan cuaca yang tidak stabil.

7. Santa Cruz (VVI) - Santiago (SCL)

Rute penerbangan antara Santa Cruz di Bolivia dan Santiago di Chile memiliki turbulensi yang cukup signifikan. Meskipun tidak melintasi pegunungan Andes secara langsung, kondisi udara di wilayah ini tetap mempengaruhi kestabilan penerbangan.

8. Kathmandu (KTM) - Paro (PBH)

Penerbangan ini menghubungkan Kathmandu di Nepal dengan Paro di Bhutan. Wilayah pegunungan Himalaya yang dramatis sering menjadi penyebab utama turbulensi di rute ini, terutama saat cuaca buruk melanda.

9. Chengdu (CTU) - Xining (XNN)

Menghubungkan dua kota besar di China, rute ini juga melalui area pegunungan yang bisa memicu turbulensi akibat perbedaan tekanan udara yang terjadi di sepanjang perjalanan.

10. San Carlos de Bariloche (BRC) - Santiago (SCL)

Rute ini menghubungkan Bariloche dengan Santiago di Chile, dan meskipun terbilang pendek, rute ini juga terpengaruh oleh pegunungan Andes yang sering menyebabkan turbulensi yang cukup kuat.

Pengaruh Suhu terhadap Turbulensi

Pesawat Qantas. (Dok: Bloomberg)

Peningkatan suhu dapat memperburuk kondisi turbulensi yang sudah ada. Turbulensi udara bersih, yang terjadi tanpa adanya tanda-tanda cuaca buruk, sering kali lebih berbahaya karena tidak dapat diprediksi dengan mudah. Meskipun turbulensi meningkat di beberapa rute, para ahli memastikan bahwa hal tersebut tidak berarti penerbangan menjadi lebih berbahaya. Teknologi penerbangan yang semakin canggih membantu pilot untuk mengantisipasi dan mengatasi turbulensi dengan lebih efektif.

Cara Menilai Tingkat Turbulensi dalam Penerbangan

Ilustrasi Penerbangan Domestik (Bloomberg Technoz)

Turbulensi diukur menggunakan skala disipasi pusaran (eddy dissipation rate/EDR). Skala ini membagi tingkat turbulensi menjadi lima kategori: ringan (0-20), sedang (20-40), kuat (40-60), parah (60-80), dan ekstrem (80-100). Rute penerbangan yang lebih sering mengalami turbulensi biasanya memiliki EDR yang lebih tinggi, yang menandakan tingkat gangguan udara yang lebih kuat.

Turbulensi adalah bagian yang tidak terhindarkan dalam dunia penerbangan, namun banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti kondisi geografis, cuaca ekstrem, dan perubahan suhu. Rute penerbangan di wilayah pegunungan, seperti Andes dan Himalaya, merupakan wilayah yang paling rentan terhadap turbulensi. 

Meskipun turbulensi dapat membuat pengalaman penerbangan menjadi lebih menegangkan, para ahli memastikan bahwa penerbangan tetap aman berkat kemajuan teknologi dan kemampuan pilot untuk menghadapinya.

Dengan mengetahui rute-rute penerbangan yang lebih sering mengalami turbulensi, penumpang dapat lebih siap dan memahami kondisi penerbangan yang akan mereka hadapi.

(seo)

No more pages