Akan tetapi, harga emas masih membukukan kenaikan 1,78% dalam sepekan terakhir. Selama sebulan ke belakang, harga bertambah 4,27%.
Emas juga masih menjadi aset paling cemerlang tahun ini. Sepanjang 2024 (year-to-date/ytd), harga melompat 29,96%.
Oleh karena itu, aksi ambil untung (profit taking) akan selalu menghantui. Sebab, potensi cuan yang bisa didapat memang tidak sedikit. Saat itu terjadi, maka emas akan mengalami tekanan jual dan harganya melemah.
Selain itu, investor juga masih mencerna rilis data terbaru di Amerika Serikat (AS). Malam tadi waktu Indonesia, US Bureau of Labor Statistics mengumumkan inflasi produsen di Negeri Paman Sam pada November sebesar 0,4% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Lebih tinggi ketimbang Oktober yang sebesar 0,3% mtm dan konsensus pasar dengan perkiraan 0,2% mtm.
Perkembangan ini membuat peluang penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral Federal Reserve menjadi berkurang, meski masih sangat tinggi. Mengutip CME FedWatch, probabilitas pemangkasan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,25-4,5% pada rapat 18 Desember adalah 96,7%. Turun dibandingkan sehari sebelumnya yaitu 97,5%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga masih tinggi.
(aji)






























