Logo Bloomberg Technoz

Nikel Tembus US$21Ribu Gegara Industri China Bangkit dari Tidur

Dovana Hasiana
21 May 2024 10:55

Smelter nikel PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Sulawesi Selatan./Bloomberg-Dimas Ardian
Smelter nikel PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Sulawesi Selatan./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pelaku industri sektor pertambangan menilai harga nikel yang menembus level US$21.000/ton disebabkan karena permintaan industri baja nirkarat atau stainless steel China yang kembali pulih.

Eksekutif Asosiasi Pertambangan Indonesia atau Indonesia Mining Association (IMA) Hendra Sinadia mengatakan pasar baja nirkarat di China sudah memasuki tahapan normal setelah pandemi Covid-19, sehingga mendorong permintaan nikel sebagai bahan baku.

“Kenaikan harga tersebut lebih banyak disebabkan oleh sentimen terkait dengan permintaan stainless steel,” ujar Hendra kepada Bloomberg Technoz, dikutip Selasa (21/5/2024).

Menyitir data London Metal Exchange (LME) pagi ini, Selasa (21/5/2024), harga nikel menguat 2,54% menjadi US$21.615/ton pada penutupan perdagangan Senin (20/5/2024). 

Kenaikan harga Nikel./dok. Bloomberg


Capaian tersebut sekaligus makin menjauhi level yang sebelumnya disampaikan diproyeksikan oleh BMI. Lengan riset dari Fitch Solutions Company tersebut memproyeksikan rerata harga nikel untuk tahun ini akan bertengger di US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton.