Logo Bloomberg Technoz

Perusahaan, yang menjalani tinjauan keamanan nasional oleh Komite Penanaman Modal Asing di AS ini, tahun lalu setuju untuk menerapkan sejumlah perubahan, termasuk membawa raksasa teknologi Amerika Oracle Corp. untuk menampung data pengguna AS dan meninjau perangkat lunaknya. Perusahaan juga setuju menunjuk dewan pengawas yang terdiri dari tiga orang yang disetujui pemerintah.

Tetapi Cfius, panel dari berbagai lembaga yang terlibat dalam keamanan nasional AS berhenti melakukan peninjauan, yang kemudian membuat TikTok tidak yakin apakah rencananya akan cukup untuk terus tetap beroperasi di AS, kata para sumber.

Anggota komite dari Departemen Kehakiman AS tidak mau menerima proposal TikTok, menurut sumber lainnya yang mengetahui masalah tersebut.

Brooke Oberwetter, juru bicara TikTok mengatakan, data TikTok untuk pengguna AS akan dipegang dengan standar keamanan yang jauh lebih tinggi daripada perusahaan Amerika mana pun yang sebanding.

TikTok makin mendunia (Brent Lewin/Bloomberg)

Apa Kata Bloomberg Intelligence:

"Menurut kami, perusahaan teknologi besar mungkin tidak tertarik untuk membeli TikTok, tetapi fokus Microsoft pada Bing dan ChatGPT dapat mendorong minat untuk menambahkan platform video, seperti TikTok, untuk bersaing dengan YouTube milik Alphabet, terutama jika kesepakatan Microsoft-Activision gagal.”

— Mandeep Singh dan Damian Reimertz, analis

TikTok juga menghadapi rentetan undang-undang potensial di Kongres AS, beberapa di antaranya mengamanatkan pemisahan dengan induk mereka di China. Anggota parlemen khawatir bahwa aplikasi tersebut mungkin dipaksa untuk berbagi data oleh pemerintah China atau dapat digunakan sebagai alat pengaruh oleh China.

CEO TikTok Shou Chew telah diminta untuk bersaksi di depan komite DPR AS pekan depan tentang praktik privasi dan keamanan data aplikasi, dan hubungan perusahaan dengan Partai Komunis China.

ByteDance memiliki nilai sekitar US$ 220 miliar dalam investasi pasar swasta baru-baru ini oleh perusahaan AI Abu Dhabi G42, yang dikendalikan oleh anggota kerajaan Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Tahnoon bin Zayed Al Nahyan, demikian dilaporkan Bloomberg News dalam laporan terpisah. Itu adalah diskon signifikan dari US$ 300 miliar yang ditetapkan pemilik TikTok selama program buyback saham tahun lalu.

(bbn)

No more pages