Logo Bloomberg Technoz

Bulog : Bantuan Pangan Tidak Efektif Turunkan Harga Beras

Dovana Hasiana
11 January 2024 17:10

Bongkar muat beras bulog impor dari Vietnam di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (12/10/2023). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Bongkar muat beras bulog impor dari Vietnam di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (12/10/2023). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Perum Bulog mengakui bantuan pangan kepada 21,3 juta keluarga penerima manfaat (KPM) dan program penyaluran 1,2 juta beras Stabilitas Pasokan Harga Pangan (SPHP) tidak mampu menurunkan harga beras pada 2023. 

Direktur Utama Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi mengatakan, kedua program tersebut hanya mampu untuk menurunkan inflasi. Sementara harga beras memang stabil, tapi harganya relatif tinggi. 

“Harus diakui bahwa bantuan pangan dan SPHP belum berhasil menurunkan harga tapi berhasil menurunkan inflasi. Harga beras nya masih relatif tinggi. Jadi artinya harga beras itu stabil tapi relatif tinggi,” ujar Bayu dalam konferensi pers Keberhasilan Bantuan Pangan Beras Menahan Laju Inflasi, di Kantor Bulog, Jakarta Selatan, Kamis (11/1/2024).

Menurut Bayu, produksi yang menurun menjadi alasan mengapa harga beras masih relatif tinggi. Sesuai dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Bayu mengatakan, surplus produksi mengalami penurunan pada 2023.  

Dalam hal ini, strategi yang dilakukan oleh Bulog untuk membantu penekanan harga adalah penyaluran 1,2 juta beras SPHP yang merupakan beras yang dijual dengan harga lebih murah.