Logo Bloomberg Technoz

Terkait dengan produksi EV berbasis hidrogen hijau, Tri mengaku BRIN baru sampai pada tahap pengembangan prototipe yang belum bisa diproduksi secara massal. Lagi-lagi, dia mengutip masalah ruang penyimpanan daya dari hidrogen sebagai kendala utamanya.

Walakin, Tri menyebut riset BRIN menyebutkan hidrogen hijau sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan secara massal sebagai bahan bakar kendaraan pengganti energi fosil.

“Kami coba mengembangkan fuel cell berukuran kecil [dari hidrogen hijau] karena itu bisa cukup murah, yang ditujukan untuk sumber energi di BTS-BTS di remote area yang berada di luar jangkauan listrik, sehingga tidak memerlukan genset dan solar seperti selama ini.”

Green hydrogen atau hidrogen hijau PLN./dok. Kementerian ESDM


Pemerintah baru-baru ini menyusun peta jalan Strategi Hidrogen Nasional hingga 2060, yang akan diluncurkan ke publik dan dapat digunakan sebagai acuan, strategi, arah, serta tujuan pengembangan hidrogen di Indonesia.

Sebagai permulaan, pemerintah melalui PT PLN (Persero) sudah menyulap 21 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) menjadi berbasis hidrogen hijau mulai bulan ini.

Seluruh hidrogen yang dihasilkan bersumber dari pengembangan EBT via pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan total kapasitas 4.644 kWp atau setara dengan 6.780 MWh/tahun, dan juga menerapkan sertifikat energi terbarukan atau renewable energy certificate (REC) sebesar 9.535 MWh/tahun.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukkan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yudo Dwinanda Priaadi mengatakan pengoperasian pembangkit hidrogen hijau pertama sudah dimulai sejak 9 Oktober, tepatnya di Muara Karang.

“[Pembangkit tersebut] bersumber dari 4 unit PLTS atap sebesar 413 kWp dan REC 2.077 MWh/tahun. Hari ini tepat hampir sebulan berlalu PLN kembali meresmikan green hydrogen plant di 21 lokasi PLTU/PLTGU," ujarnya, baru-baru ini.

Dari 21 pembangkit hidrogen hijau tersebut, 12 di antaranya dikelola PLN Indonesia Power, 8 unit PLN Nusantara Power, dan 1 unit UIKJTB.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menambahkan kapasitas produksi pembangkit hidrogen hijau yang baru diluncurkan menacpai 199 ton/tahun.

“Kalau dahulu ekses produksi hidrogen hijau hanya bisa 140-an mobil listrik fuel cell, sekarang kita mampu menyuplai 424 mobil dan kalau dahulu kita masih hanya mengurangi 1.900 ton emisi, sekarang kita mampu mengurangi 3.720 ton emisi CO2 per tahun," jelas Darmo.

Untuk menghasilkan capaian yang besar diperlukan kolaborasi antarpihak terkait, termasuk dengan akademisi dan kalangan industri otomotif dan pupuk.

"Kita bangun kolaborasi dengan BRIN untuk membangun Hydrogen Refueling Station [HRS] di ratusan titik di Indonesia. Sehingga ‘pom green hydrogen’ jumlahnya akan menyaingi pom bensin. Kita akan gantikan seluruh genset berbasis BBM yang ada di mal-mal, perkantoran, bandara, dan lain-lain. Kita gantikan dengan fuel cell generator berbasis green hydrogen,” papar Darmo.

(wdh)

No more pages