Trump mengakui bahwa perang Iran yang tidak populer dan telah mendorong kenaikan harga minyak serta bensin turut berperan dalam kekalahan telak Partai Republik pada pemilihan paruh waktu (midterm) 3 November.
Ia membela perang tersebut, yang dimulai dengan serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari, sebagai langkah yang diperlukan untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Diplomasi kembali menjadi sorotan pekan lalu setelah pemilu paruh waktu AS. Qatar, yang menjadi mediator utama antara AS dan Iran, menyatakan bahwa Teheran tengah mempelajari sejumlah proposal terkait aktivitas nuklirnya.
Trump baru-baru ini berbicara dengan pemimpin Qatar, Emir Sheikh Tamim Bin Hamad Al-Thani, mengenai upaya meredakan ketegangan. Pembicaraan tersebut menjadi sinyal baru bahwa presiden AS itu ingin mengakhiri perang.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada Minggu bahwa “tidak ada aktivitas maupun perkembangan dari pihak mediator” dalam beberapa hari terakhir setelah pemilu di AS.
“Masih harus dilihat berapa lama waktu yang dibutuhkan mereka untuk menerima hasil pemilu tersebut dan arah kebijakan apa yang akan mereka ambil selanjutnya,” kata Araghchi kepada kantor berita pemerintah Iran, Islamic Republic News Agency.
(bbn)





























