“Awalnya, kami menjalankan katering rumahan dengan melayani pesanan pelanggan dari rumah ke rumah. Kemudian, ada permintaan makanan beku yang praktis dan siap disajikan. Dari situ muncul ide untuk mengembangkan produk sendiri hingga DapurnyaAmi memiliki beragam varian seperti sekarang,” ujar Ami.
Keputusan mengembangkan produk makanan beku menjadi salah satu langkah penting dalam perjalanan DapurnyaAmi. Dari bisnis yang sebelumnya bergantung pada pesanan katering, Ami mulai membangun usaha dengan produk yang memiliki potensi distribusi lebih luas.
Namun, perkembangan tersebut juga membawa tantangan tersendiri. Persaingan di industri kuliner, terutama dengan produk sejenis yang menawarkan harga lebih murah, menjadi salah satu hal yang harus dihadapi.
Alih-alih mengikuti persaingan harga, Ami memilih mempertahankan margin usaha sekaligus menjaga kualitas dan karakter produknya. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun daya saing DapurnyaAmi di tengah kompetisi bisnis makanan yang semakin ketat.
DapurnyaAmi Perluas Distribusi dan Jangkauan Pasar
Dalam mengembangkan bisnis, DapurnyaAmi tidak hanya mengandalkan penjualan langsung kepada konsumen. Ami membangun jaringan pemasaran melalui reseller, pasar ritel modern, marketplace, hingga berbagai pameran dan kegiatan penjualan.
Strategi distribusi tersebut membuka kesempatan bagi produknya untuk menjangkau konsumen di luar wilayah Sumatera Barat. Sejumlah daerah, termasuk Riau dan Pulau Jawa, telah menjadi bagian dari jangkauan pemasaran DapurnyaAmi.
Perluasan distribusi juga menjadi langkah untuk memperkenalkan produk kuliner khas Minangkabau kepada pasar yang lebih beragam. DapurnyaAmi bahkan mulai merambah pasar nasional dan internasional sebagai bagian dari pengembangan bisnis ke depan.
Dalam mendukung kegiatan operasional, Ami turut memanfaatkan layanan perbankan untuk mempermudah transaksi dengan pelanggan. Salah satunya melalui layanan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, terutama penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan transaksi melalui rekening BRI.
Pemanfaatan layanan digital tersebut membantu mendukung aktivitas transaksi usaha yang semakin berkembang. Terlebih, jaringan pemasaran yang meluas membuat kemudahan pembayaran menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga kelancaran kegiatan bisnis.
Di luar dukungan transaksi keuangan, pengembangan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian Ami. Ia mengenal platform linkumkm by BRI melalui Rumah BUMN di Bukittinggi, yang kemudian dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperluas pengetahuan dan kemampuan dalam mengelola usaha.
Melalui platform tersebut, Ami memperoleh kesempatan mengikuti berbagai pelatihan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan bisnis. Pembelajaran menjadi salah satu bekal untuk memperkuat pengelolaan usaha sekaligus mempersiapkan DapurnyaAmi menghadapi persaingan pasar yang lebih luas.
Pengalaman lainnya diperoleh ketika Ami mengikuti program Brilianpreneur pada 2022. Program tersebut menjadi bagian dari perjalanan DapurnyaAmi dalam memperluas wawasan dan mengenal peluang pengembangan usaha.
“Bagi kami, BRI adalah rumah besar untuk menimba ilmu. Kami sangat mengandalkan pelatihan untuk menambah pengetahuan dalam menjalankan usaha. Salah satunya melalui pengalaman mengikuti Brilianpreneur pada 2022. Kami ingin terus belajar agar DapurnyaAmi bisa berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas,” tutur Ami.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kapasitas produksi dan pemasaran. Akses terhadap pengetahuan, pelatihan, serta pendampingan juga menjadi faktor yang dapat membantu pelaku usaha memperkuat fondasi bisnis.
Bagi DapurnyaAmi, kemampuan mempertahankan kualitas produk sekaligus memahami dinamika pasar menjadi modal penting untuk melanjutkan ekspansi. Dengan mengandalkan bahan baku lokal dan karakter kuliner Minangkabau, Ami berupaya menjaga identitas produk di tengah persaingan industri makanan.
BRI Dorong UMKM Tingkatkan Kapasitas dan Naik Kelas
Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan bahwa perjalanan DapurnyaAmi mencerminkan besarnya potensi UMKM Indonesia untuk berkembang melalui pemanfaatan dukungan pengembangan usaha yang tepat.
Menurutnya, keberadaan UMKM memiliki peran strategis dalam menggerakkan perekonomian nasional. Karena itu, penguatan kapasitas pelaku usaha menjadi salah satu aspek penting agar UMKM mampu meningkatkan daya saing dan memperluas peluang bisnis.
“BRI meyakini bahwa UMKM merupakan penggerak utama perekonomian nasional yang perlu terus didukung agar semakin tangguh dan berdaya saing. Melalui linkumkm by BRI, kami menghadirkan ekosistem pemberdayaan terintegrasi untuk meningkatkan kapasitas serta memperluas peluang pengembangan bisnis. Kami berharap kisah DapurnyaAmi dapat menginspirasi semakin banyak UMKM Indonesia untuk terus berinovasi, bertumbuh secara berkelanjutan, dan naik kelas,” ujar Dhanny.
Sebagai bagian dari upaya pemberdayaan tersebut, BRI mengembangkan linkumkm by BRI sebagai platform yang menyediakan akses pembelajaran dan pendampingan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Hingga 30 September 2026, platform tersebut telah mencatat lebih dari 17,66 juta pengguna. Linkumkm by BRI juga menyediakan 845 modul pembelajaran yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam mengelola bisnis.
Melalui platform ini, pelaku UMKM dapat mengikuti asesmen untuk mengetahui level perkembangan bisnis masing-masing. Hasil asesmen tersebut menjadi dasar untuk memperoleh akses pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik usaha.
Selain menyediakan materi pembelajaran, linkumkm by BRI juga menghadirkan pendampingan mentor. Fasilitas ini diharapkan dapat membantu pelaku usaha memperoleh arahan dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis, mulai dari pengelolaan operasional hingga strategi pengembangan pasar.
Dukungan pengembangan kapasitas tersebut menjadi semakin relevan di tengah persaingan industri yang menuntut pelaku UMKM untuk terus beradaptasi. Kemampuan memahami kebutuhan konsumen, menjaga kualitas produk, serta memanfaatkan teknologi digital menjadi sejumlah aspek yang perlu diperkuat.
Kisah DapurnyaAmi menunjukkan bagaimana usaha kuliner berbasis potensi lokal dapat berkembang melalui inovasi produk, strategi pemasaran, dan peningkatan kapasitas pengelolaan bisnis. Berangkat dari katering rumahan, usaha Ami kini memiliki jaringan distribusi yang lebih luas dengan berbagai saluran pemasaran.
Ke depan, konsistensi dalam menjaga kualitas produk dan memperkuat strategi bisnis menjadi modal bagi DapurnyaAmi untuk memperluas jangkauan pasar. Dukungan ekosistem pemberdayaan UMKM juga diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi usaha lokal untuk tumbuh secara berkelanjutan dan meningkatkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional.
(tim)





























