Salah seorang demonstran yang berpakaian menyerupai Kanselir Jerman Friedrich Merz langsung menjadi pusat perhatian dan sasaran swafoto. Sementara itu, sejumlah demonstran lainnya menyerukan agar Merz “mengundurkan diri”. Spanduk-spanduk yang dibawa massa antara lain bertuliskan, “Makanlah orang kaya”, “Kita tidak mampu memberi makan orang miskin, tetapi bisa berperang?”, “Pasar perumahan kalian membuat kami kehilangan tempat tinggal”, dan “Kirim Merz ke garis depan”.
Aksi demonstrasi tersebut diorganisasi oleh kelompok bernama “Gen Z regelt”, yang secara bebas dapat diterjemahkan sebagai “Gen Z turun tangan menyelesaikan masalah”. Menjelang aksi, kelompok tersebut telah menegaskan tidak akan menoleransi segala bentuk kekerasan terhadap orang maupun properti. Jumlah peserta demonstrasi ternyata jauh di bawah perkiraan awal yang mencapai lebih dari 150.000 orang di lebih dari 30 kota. Kelompok itu mengatakan berencana menggelar demonstrasi nasional berikutnya pada 14 November.
“Kami adalah anak-anak muda yang tidak lagi ingin hanya menyaksikan keputusan tentang masa depan kami dibuat tanpa melibatkan kami,” demikian pernyataan kelompok tersebut dalam unggahan di situs webnya. Mereka mengajak masyarakat dari segala usia untuk bergabung dalam demonstrasi “demi pendidikan, kesehatan, perlindungan iklim, dan kehidupan yang terjangkau”.
Pihak berwenang sebelumnya khawatir aksi tersebut akan mengulang kekerasan yang melanda Prancis bulan lalu. Saat itu, aksi blokade dan unjuk rasa berkembang menjadi demonstrasi nasional terkait biaya hidup yang diikuti lebih dari setengah juta orang, sebelum berujung pada kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan.
“Saya telah berulang kali mengisyaratkan bahwa kita harus mengantisipasi penyusupan kelompok ekstremis sayap kiri yang berpotensi melakukan kekerasan dalam demonstrasi ini, dan itulah yang benar-benar terjadi,” demikian pernyataan Menteri Dalam Negeri Negara Bagian Hesse, Roman Poseck, seperti dikutip stasiun televisi ARD melalui program Tagesschau.
Di Berlin, aksi massa di Gerbang Brandenburg berlangsung tanpa banyak insiden. Namun, polisi menangkap hampir 60 orang di sejumlah lokasi lain di kota tersebut atas dugaan perusakan properti, penyerangan, perlawanan terhadap petugas penegak hukum, serta pelanggaran Undang-Undang Senjata dan Bahan Peledak.
Kerusuhan di Prancis telah mendorong para aktivis di wilayah Eropa lainnya untuk menggelar aksi serupa, termasuk di Zurich. Di kota tersebut, beberapa ratus orang bertopeng dan mengenakan pakaian hitam berkumpul di sekitar Langstrasse dan Helvetiaplatz di pusat kota untuk menggelar demonstrasi tanpa izin pada Sabtu malam. Para peserta mendirikan barikade menggunakan tempat sampah dan benda-benda lainnya, lalu membakar beberapa di antaranya. Sebuah mobil juga dibakar di Zwinglistrasse yang berada tidak jauh dari lokasi. Polisi menggunakan meriam air dan peluru karet untuk membubarkan massa.
Demonstrasi yang digerakkan kaum muda telah merebak di berbagai wilayah Eropa dalam beberapa pekan terakhir, mulai dari Belgia dan Portugal di bagian barat hingga Serbia dan Albania di bagian timur. Meski tuntutan di setiap negara sedikit berbeda, sentimen yang mendominasi adalah kemarahan terhadap biaya hidup yang semakin mahal, infrastruktur yang memburuk, dan ketimpangan. Para pelajar di Prancis mulai menggelar demonstrasi pada pertengahan September untuk memprotes ruang kelas yang terlalu padat, kekurangan guru, dan bangunan sekolah yang sudah usang.
Setelah kerusuhan di Prancis, pihak berwenang menerapkan langkah-langkah keamanan yang lebih ketat serta menjanjikan bantuan bagi pelaku usaha dan pemilik toko yang mengalami kerusakan. Di Italia, pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni mengesahkan aturan keamanan baru untuk meredam demonstrasi yang berujung kekerasan, termasuk memperberat hukuman bagi anak di bawah umur setelah serangkaian insiden terjadi di berbagai wilayah negara tersebut.
Lebih dari 300.000 orang kembali mengikuti gelombang demonstrasi di Prancis pada Sabtu yang memicu kekerasan baru, meski skalanya lebih kecil dibandingkan kerusuhan pada pertengahan Oktober. Paris mengerahkan sekitar 70.000 personel keamanan, jumlah yang hampir sama dengan pengerahan saat demonstrasi pada akhir pekan sebelumnya. Pihak berwenang mengatakan polisi menangkap 779 orang dan lima petugas terluka di Paris.
Gambar-gambar yang disebarkan Gendarmerie Nasional Prancis menunjukkan seorang petugas terkena lemparan bom molotov. Dalam keterangannya kepada wartawan pada Sabtu malam, Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyebut serangan tersebut sebagai “percobaan pembunuhan”. Kantor berita Agence France-Presse (AFP) melaporkan pada Minggu bahwa Prancis telah membuka penyelidikan atas dugaan percobaan pembunuhan terkait insiden tersebut.
Serikat mahasiswa menyerukan aksi blokade di sekolah menengah dan universitas pada pekan ini. Mereka juga mendesak para pelajar dan mahasiswa untuk bergabung dalam aksi mogok besar lintas sektor yang dijadwalkan berlangsung secara nasional pada 5 November.
(bbn)































