Aktivitas sektor minyak turun sebesar 20,4%, dibandingkan dengan penurunan sebesar 24,8% pada kuartal kedua.
Angka-angka ini menggarisbawahi gejolak yang hampir belum pernah terjadi sebelumnya bagi ekonomi terbesar di dunia Arab tersebut, di tengah upayanya menghadapi dampak perang AS-Iran yang dimulai delapan bulan lalu, serta konflik Arab Saudi dengan kelompok Houthi di Yaman yang didukung oleh Teheran.
Tindakan balasan oleh Republik Islam Iran dan kelompok-kelompok proksinya terhadap sekutu AS di kawasan Teluk Persia mencakup serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi, yang mengganggu proses pemompaan dan ekspor. Situasi ini juga menghambat lalu lintas melalui Selat Hormuz—meskipun eksportir minyak mentah terbesar di dunia ini telah memitigasi dampaknya dengan mengalihkan aliran minyak melalui jalur pipa menuju pelabuhan di Laut Merah.
Data tersebut mencakup penghentian sementara jalur pipa tersebut pada bulan September menyusul serangkaian serangan, dan mencatat kondisi sebelum ekspor minyak Arab Saudi kembali mencapai level tertinggi di masa perang seperti yang terjadi baru-baru ini.
Gambaran ekonomi ini juga mencatat kondisi sebelum lonjakan ketegangan terbaru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi. Serangkaian serangan udara mematikan oleh kelompok pemberontak Yaman pada bulan Oktober telah menghambat perjalanan udara dari dan menuju Riyadh, menunda berbagai acara penting, serta melumpuhkan kawasan keuangan utama di Riyadh.
Meskipun para ekonom dan investor menilai industri minyak Arab Saudi tetap menunjukkan ketahanan—dengan harga minyak mentah Brent yang saat ini diperdagangkan di atas US$115 per barel—kekhawatiran kini beralih ke sektor-sektor ekonomi lainnya.
Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan bulan lalu bahwa bantalan fiskal dan fasilitas cadangan ekspor minyak Arab Saudi membantu meminimalkan dampak ekonomi akibat perang yang melibatkan Iran. Lembaga tersebut menilai Arab Saudi berada dalam posisi yang lebih baik dibandingkan negara-negara Teluk lainnya untuk menghadapi gejolak ini, bahkan setelah meningkatnya pertempuran dengan kelompok Houthi.
Konflik dengan kelompok yang didukung Iran tersebut meningkat secara signifikan pada awal Oktober, setelah pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan kampanye militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah-wilayah di Yaman yang dikuasai oleh Houthi.
Sebelum eskalasi tersebut, pemerintah Arab Saudi telah menaikkan proyeksi defisit anggaran tahun 2026 menjadi 4,9% dari produk domestik bruto (PDB) dan memperkirakan ekonomi akan mengalami kontraksi sebesar 3,6%—tingkat yang serupa dengan kondisi saat puncak pandemi Covid-19 pada tahun 2020.
(bbn)































