Logo Bloomberg Technoz

Lembaga tersebut menambahkan bahwa belum jelas kapan pengeluaran perusahaan akan mulai menghasilkan pendapatan material yang melampaui peningkatan biaya yang harus ditanggung.

Prospek negatif tersebut "mencerminkan ketidakpastian mengenai berapa lama belanja modal (capex) akan tetap tinggi dan arus kas bebas dari aktivitas operasional akan berada di zona negatif."

Keputusan ini mengindikasikan bahwa S&P berpotensi menurunkan peringkat kredit perusahaan dalam beberapa tahun ke depan. Namun, hal tersebut juga berarti lembaga pemeringkat obligasi itu belum secara aktif mempertimbangkan penurunan peringkat Meta saat ini.

Keputusan tersebut muncul ketika investor mulai mencermati kemampuan Meta dan perusahaan-perusahaan lain di industri teknologi untuk menghasilkan keuntungan nyata dari investasi besar-besaran yang telah mereka gelontorkan untuk membangun infrastruktur AI.

Indeks Nasdaq 100 anjlok 3,5% pada Jumat, sempat menembus ambang batas koreksi teknikal, setelah kinerja keuangan sejumlah perusahaan teknologi mengecewakan pasar.

"Kami dengan hormat tidak sependapat dengan pernyataan S&P mengenai kemampuan Meta dalam memonetisasi AI," kata juru bicara perusahaan Kamran Mumtaz dalam sebuah pernyataan.

"Kami melihat peluang produk dan bisnis yang signifikan ke depan, yang mendukung profil kredit kami yang sangat kuat."

Peringkat kredit Meta saat ini, yakni AA-, merupakan peringkat tertinggi keempat dalam kategori investment grade. Bahkan jika diturunkan satu tingkat, peringkat perusahaan tersebut masih akan berada kokoh dalam kategori kredit berkualitas tinggi.

Meski demikian, perusahaan tersebut telah banyak berutang untuk mendanai ambisinya. S&P memperkirakan belanja modal Meta akan mencapai US$140 miliar tahun ini dan meningkat menjadi lebih dari US$225 miliar pada 2027.

Menurut pernyataan S&P, rasio leverage perusahaan teknologi raksasa tersebut berpotensi meningkat melampaui 1 kali pada tahun depan, dibandingkan sekitar 0,1 kali pada tahun lalu.

Awal bulan ini, Meta mengungkapkan memiliki komitmen belanja masa depan lebih dari US$800 miliar, dengan hampir separuhnya terkait kontrak sewa yang belum mulai berlaku, terutama untuk pusat data dan infrastruktur energi.

Meskipun sejumlah investor Wall Street mulai menunjukkan keraguan dan mendesak Meta menjelaskan bagaimana perusahaan akan memperoleh imbal hasil dari investasinya di bidang AI, para eksekutif perusahaan justru semakin menegaskan pentingnya melanjutkan belanja tersebut pada masa mendatang.

"Kami memperkirakan akan terus berinvestasi secara agresif untuk mendukung bisnis inti maupun inisiatif AI yang sedang berkembang," kata Chief Financial Officer Susan Li dalam konferensi paparan kinerja keuangan bersama para analis.

Dalam beberapa bulan terakhir, Meta telah mencatatkan kemajuan dalam pengembangan teknologinya, khususnya melalui model AI Muse dan agen AI personal miliknya.

Chief Executive Officer Mark Zuckerberg dan sejumlah pimpinan lainnya telah memaparkan beberapa cara perusahaan dapat menghasilkan pendapatan dari produk-produk tersebut, termasuk melalui biaya berlangganan, biaya transaksi, dan bahkan kemungkinan memasukkan iklan.

Iklan selama ini telah menyumbang sebagian besar pendapatan Meta melalui aplikasi seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp.

Perusahaan tersebut juga tengah mengembangkan rencana untuk membangun bisnis komputasi awan (cloud business).

Bisnis ini berpotensi mencakup penjualan akses ke berbagai model AI yang dioperasikan melalui infrastruktur AI milik Meta saat ini, atau penyediaan akses terhadap kapasitas komputasi mentah (raw computing capacity).

(bbn)

No more pages