Salah satu pendiri Binance, Changpeng Zhao, mengatakan bursa tersebut mungkin telah diretas. Namun, ia memastikan seluruh dana pengguna akan diganti sepenuhnya. Zhao, yang dikenal dengan nama CZ, kini tidak lagi memimpin perusahaan, tetapi tetap menjadi pemegang saham terbesar.
Berbagai forum daring dipenuhi dengan perkiraan kerugian dan teori mengenai bagaimana serangan tersebut dirancang, meski belum ada satu pun yang terkonfirmasi.
Layanan pelacak blockchain, Arkham, telah mengidentifikasi sejumlah dompet digital yang diduga milik peretas, menyimpan aset digital sekitar US$5,9 miliar—meski angka ini tidak serta-merta mencerminkan jumlah yang dicuri dari Binance.
Harga Bitcoin anjlok hingga di bawah US$77.000, mencapai level terendah sejak September, sementara aset kripto lainnya juga mengalami aksi jual. Di pasar saham AS, indeks ditutup melemah; indeks teknologi Nasdaq 100 turun hampir 1,4%.
“Kabar peretasan Binance jelas menekan harga aset kripto,” ujar Fredrick Collins, CEO sekaligus salah satu pendiri platform data kripto Velo Data.
“Binance adalah raksasa di dunia kripto; guncangan terhadap kepercayaan, terhadap Binance, berarti guncangan terhadap kepercayaan terhadap industri kripto secara keseluruhan—terlebih lagi di tengah kekhawatiran publik yang meningkat terkait kemampuan siber berbasis AI.”
Bagi para pendukung setia kripto yang selama dua bulan terakhir menikmati rebound harga di tengah semakin eratnya keterlibatan institusi Wall Street, insiden ini berpotensi menjadi kemunduran.
Insiden pencurian dan penipuan yang terkenal di kalangan raksasa kripto yang telah runtuh, seperti FTX dan Mt. Gox, pernah menjadi pemicu pasar bearish berkepanjangan di masa lalu—luka yang telah berusaha diatasi oleh industri ini di era baru kejelasan regulasi kripto yang dijanjikan Presiden AS Donald Trump.
Hingga saat ini, peretasan kripto terbesar yang diketahui publik terjadi di bursa Bybit pada Februari 2025, di mana para peretas berhasil menggasak token senilai hampir US$1,5 miliar.
Loss might be a bit higher than that, but will cover. ?
— CZ ? BNB (@cz_binance) October 29, 2026
Binance memiliki dana asuransi dan cadangan darurat yang disebut Secure Asset Fund for Users (SAFU), dibentuk pada 2018 sebagai jaring pengaman bagi pelanggan dalam "situasi ekstrem". Menurut Binance pada 2024, dana SAFU umumnya dijaga di kisaran US$1 miliar, meski jumlahnya sempat berfluktuasi mengikuti pergerakan pasar.
Dua penerbit stablecoin terbesar menyatakan telah mengambil langkah pembekuan mata uang yang hilang tersebut. Paolo Ardoino, CEO Tether, mengungkap melalui unggahan di platform X bahwa pihaknya telah membekukan stablecoin senilai lebih dari US$1,5 miliar "terkait dengan potensi peretasan di bursa Binance."
Sementara itu, Jeremy Allaire, pimpinan Circle Internet Group Inc, menyatakan aset senilai US$800 juta telah dibekukan di tengah "laporan mengenai potensi eksploitasi yang melibatkan Binance."
"Pengurasan dana dari hot wallet [dompet digital yang terhubung ke internet] bukanlah hal baru di dunia kripto, tetapi jumlah sebesar ini menjadikannya peretasan yang signifikan terhadap bursa kripto terbesar," ujar James Seyffart dari Bloomberg Intelligence.
"Ini jelas citra yang buruk. Terlebih lagi, kejadian ini terjadi secara berturut-turut," imbuhnya, merujuk pada serangkaian insiden keamanan belakangan ini.
Tether froze more than 1.567B USDT related to a potential Binance exchange hack. Protecting the industry and our partners is our main priority. Stay safe everyone.
— Paolo Ardoino ? (@paoloardoino) October 29, 2026
Sentimen pasar yang memang sudah rapuh kembali tertekan akibat serangkaian insiden keamanan kripto yang parah. Dalam beberapa bulan terakhir, dana ratusan juta dolar terkuras dari bursa Bitget, sementara kasus manipulasi terkait perangkat Ledger juga menyebabkan kerugian jutaan dolar.
Para trader sebenarnya sudah bersiap menghadapi volatilitas yang lebih besar di pasar kripto minggu ini, mengingat kontrak opsi senilai US$11 miliar akan jatuh tempo pada Jumat. Hal ini terjadi beberapa hari menjelang Pemilu sela di AS yang akan berlangsung pekan depan.
Dalam Pemilu tersebut, Partai Demokrat berpotensi merebut kembali kendali salah satu atau kedua majelis di Kongres, yang dapat membuka jalan bagi pengawasan regulasi yang lebih ketat terhadap industri ini.
Pencurian dan tindakan curang di bursa kripto menjadi fenomena yang terus membayangi perkembangan industri kripto selama hampir dua dekade terakhir. Salah satu kasus yang paling terkenal adalah runtuhnya FTX milik Sam Bankman-Fried pada November 2022.
Dalam insiden peretasan yang mungkin paling mencuat, bursa Bitcoin berbasis di Jepang, Mt. Gox, diserang pada 2011. Seiring berjalannya waktu, para peretas berhasil membawa kabur token senilai miliaran dolar berdasarkan harga pasar saat ini. Mt. Gox akhirnya dinyatakan bangkrut.
“Ini merupakan kerugian besar bagi industri kripto akibat serangan peretasan yang terus berhasil terjadi,” kata Tian Zeng, CEO hedge fund kripto Third Eye. “Fakta bahwa eksploitasi terus terjadi membuatnya berbahaya di era di mana model-model AI terbaru dirilis setiap dua minggu.”
Insiden tersebut terjadi pada hari yang sama ketika platform kontrak acara Polymarket menghentikan perdagangan di bursa internasionalnya selama satu jam, setelah menyatakan penyedia perangkat lunak pihak ketiga telah diretas.
Lebih dari 700 pengguna Polymarket kehilangan dana sebesar US$2,7 juta, menurut platform analisis blockchain Bubblemaps, dalam unggahan di X. Juru bicara menolak memberikan komentar mengenai angka tersebut.
(bbn)



























