Para trader menyebut bahwa pada akhir September, jenis minyak tersebut ditawarkan dengan premi US$30 per barel di atas ICE Brent, tetapi kini melandai ke angka US$20. Sebagai perbandingan, pada akhir Agustus, preminya hanya sebesar US$5 per barel.
Tarif angkutan jarak jauh telah turun, seiring meningkatnya ekspor minyak dari Teluk Persia meski risiko pengiriman di Selat Hormuz semakin tinggi.
Sebelumnya, kilang-kilang di Asia sempat beralih membeli minyak mentah dari wilayah Atlantik—memicu kenaikan biaya pengiriman—tetapi kini mereka kembali melirik minyak dari Timur Tengah, seiring meningkatnya pasokan dari wilayah tersebut.
Menurut data Vortexa, biaya pengiriman satu barel minyak mentah dari Texas ke Korea Selatan kini sekitar US$31, turun dari sekitar US$42,60 pada hampir tiga minggu lalu. Sementara tarif angkut kargo menuju China dari Afrika Barat telah turun dari hampir US$33 menjadi US$24,50.
Para trader—meminta tidak disebutkan namanya karena tidak berwewenang berbicara kepada media—mengungkap jenis minyak yang baru-baru ini dibeli oleh kilang-kilang China mencakup Ceiba dari Guinea Khatulistiwa, Saturno dari Angola, dan Mero dari Brasil.
Selain itu, minyak jenis Basrah dari Irak juga ditawarkan dengan premi US$15 per barel di atas ICE Brent, yang menjadi alternatif menarik lainnya bagi pembeli.
Minyak dari Afrika Barat dan Brasil mungkin dapat memberikan sedikit kelegaan bagi kilang-kilang minyak independen di China—yang beroperasi dengan margin keuntungan sangat tipis dan biasanya mengandalkan pasokan dari Rusia serta minyak mentah dengan harga diskon dari Iran.
Kilang-kilang independen tersebut kini mencari alternatif lain, setelah blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran memutus akses mereka terhadap pasokan murah tersebut.
(bbn)


























