Berikut sepuluh saham teratas yang mendukung rebound IHSG.
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang 34,35 poin
- PT Astra International Tbk (ASII) menyumbang 15,08 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyumbang 5,36 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyumbang 2,96 poin
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menyumbang 1,36 poin
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menyumbang 1,32 poin
- PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menyumbang 1,03 poin
- PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) menyumbang 0,96 poin
- PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) menyumbang 0,85 poin
- PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) menyumbang 0,7 poin
Namun, kenaikan IHSG dibatasi oleh melemahnya sejumlah saham. Diantaranya adalah sebagai berikut
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mengurangi 6,48 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengurangi 5,28 poin
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengurangi 3,83 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengurangi 3,51 poin
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) mengurangi 3,33 poin
Sentimen Pasar
Phintraco Sekuritas menyebut, IHSG ditutup menguat 0,31% pada level 5.282 di perdagangan Rabu (28/10/2026), setelah sebelumnya IHSG sempat tertekan hingga level 5.167, yang antara lain disebabkan oleh sentimen negatif dari harga minyak yang masih bertahan di level tinggi, depresiasi nilai tukar rupiah yang berlanjut, serta antisipasi rebalancing indeks MSCI pada November nanti.
Sejatinya IHSG masih dibayangi nilai tukar rupiah yang ditutup melemah 0,17% pada level Rp18.183/US$ yang merupakan level All Time Low/ATL atau posisi penutupan terlemah sepanjang sejarah Indonesia, seiring dengan berlanjutnya kenaikan indeks dolar AS menjelang pengumuman hasil pertemuan The Fed.
Terlebih lagi, tekanan jual juga menyengat pasar obligasi Indonesia hingga mendorong tren pelemahan rupiah. Peringatan MSCI terhadap pasar modal Indonesia telah mulai berdampak terhadap pasar obligasi di tengah investor global cenderung mencari aset investasi yang lebih aman di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Rasanya, agenda RUPSLB Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan dampak sentimen yang cenderung positif hingga strategis untuk jangka panjang. Hal ini mengingat demutualisasi berpotensi menjadi katalis positif apabila mampu memperkuat independensi bursa, meningkatkan transparansi dan akuntabilitas tata kelola, serta memisahkan kepentingan bisnis dari fungsi pengaturan dan pengawasan.
“Selain itu, masuknya investor strategis juga berpotensi mendukung pengembangan infrastruktur perdagangan, pendalaman pasar, dan daya saing BEI di tingkat regional,” terang Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam catatan terbarunya per hari ini, Rabu (28/10/2026).
(fad)




























