Tekanan di pasar surat utang domestik dipicu oleh kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun ke 5% jelang pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed. Kenaikan yield ini juga turut mempertahankan posisi indeks dolar AS tetap tinggi di 102,43.
Kenaikan itu merembet ke pasar obligasi global. Yield obligasi pemerintah Jepang naik 2,3 bps jadi 2,81%, disusul Australia naik 5,5 bps jadi 5,2%, Korea Selatan naik 9,1 bps jadi 4,11%, dan China 0,5 bps jadi 1,61%.
Sebaliknya, pasar INDON, yakni surat utang RI berdenominasi dolar AS justru terlihat diburu investor. Yield turun disepanjang kurva dengan tenor 10 tahun terpangkas 5,1 bps jadi 6,03%, diikuti tenor 7 tahun turun 4,4 bps jadi 5,87%, lalu tenor 5 tahun terpangkas 4,1 bps jadi 5,61%.
Aksi beli di pasar INDON diimbangi dengan terpangkasnya Credit Default Swap (CDS) INDON 5 Tahun yang menjadi 104, dari sebelumnya 108.
Sementara, mata uang Asia sore ini cukup beragam. Ringgit Malaysia menguat bersama peso Filipina, diikuti dolar Taiwan, dan yen Jepang yang lebih terbatas. Sebaliknya, won Korea Selatan terdepresiasi bersama rupiah, rupee India, dolar Singapura, dan baht Thailand.
Dari sisi domestik, pelaku pasar mencermati jalannya aksi demonstrasi yang berlangsung sore ini. Belakangan, gejolak sosial-politik menjadi pusat perhatian investor dan menyebabkan premi risiko investasi di dalam negeri diganjar lebih mahal.
(dsp/aji)


























