Logo Bloomberg Technoz

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG justru tertekan dari banyaknya indeks saham Asia yang menghijau. KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea Selatan), TAIEX (Taiwan), Shenzhen Comp. (China), NIKKEI 225 (Jepang), Shanghai Composite (China), CSI 300 (China), Hang Seng (Hong Kong), Straits Times (Singapura), dan Ho Chi Minh Stock (Vietnam) berhasil menguat.

Penguatan di bursa saham Benua Kuning menyusul tren positif yang terjadi di Wall Street. Tiga perusahaan terbesar dunia—Alphabet Inc, Microsoft Corp, dan Amazon.com Inc—diestimasikan mencatatkan pertumbuhan laba yang solid ketika merilis laporan keuangan, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.

Sementara itu, para pembuat kebijakan di bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve diprediksi mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan Oktober, sembari menunggu perkembangan sebelum kemungkinan kembali mengereknya. Gubernur The Fed Kevin Warsh, yang belum banyak memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan ke depan, mungkin tidak akan memberi sinyal yang jelas mengenai keputusan pada Desember. Namun, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga masih diproyeksikan bertahan.

“Pemulihan moderat sentimen konsumen AS dan penurunan harga minyak tampaknya mendukung sentimen pengambilan risiko menjelang pekan yang padat dengan keputusan bank sentral,” kata Dan Pan, Ekonom Kawasan Amerika di Standard Chartered Bank.

Sentimen bernada positif pun turut hadir dari pasar komoditas, harga minyak melandai pada Selasa ketika pasar menimbang upaya potensi meredanya ketegangan di Timur Tengah. 

Kembali bergulirnya upaya diplomasi yang datang dari niat baik pejabat Arab Saudi, Pakistan, dan Turki melangsungkan perjalanan menuju Teheran untuk menggelar pembicaraan. Kendatipun demikian, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, kembali menegaskan persyaratan yang sebelumnya telah ditetapkan negaranya untuk menyudahi perang.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$100 per barel pagi–siang hari ini, setelah turun lebih dari 2% dalam dua sesi. Sementara itu, minyak Brent melaju terbatas di rentang US$114 per barel.

(fad/aji)

No more pages