Pada Desember tahun lalu, Penjaga Pantai AS (US Coast Guard) sempat memeriksa kapal tersebut di Laut Karibia saat sedang mengangkut minyak mentah milik perusahaan negara Venezuela, Petróleos de Venezuela S.A.
Menurut data dari Kpler dan Vortexa, awal bulan ini—hampir setahun setelah insiden tersebut—kapal itu memuat minyak mentah dari Irak setelah disewa oleh badan pemasaran minyak negara tersebut.
Kapal itu kemudian memindahkan muatannya ke kapal tanker lain di Teluk Oman.
Seperti banyak kapal lain di wilayah tersebut selama delapan bulan masa perang, kapal ini tidak memancarkan sinyal lokasinya. Namun, perusahaan intelijen berhasil melacak rutenya melalui data alternatif, termasuk citra satelit.
Centuries hanyalah kapal terbaru dari armada "kapal gelap" Venezuela—yang kini sudah tidak beroperasi—yang muncul dalam perdagangan di Teluk Persia.
Hal ini terjadi di tengah pemulihan arus minyak, sementara pasokan kapal tanker yang terbatas telah mendorong biaya pengangkutan (freight rates) ke rekor tertinggi.
Untuk mengatasi kendala tersebut, pemerintahan Trump mengisyaratkan keinginan agar lebih banyak kapal masuk ke dalam jalur perdagangan arus utama guna membantu menekan biaya—meskipun itu berarti harus memulihkan status kapal-kapal yang sebelumnya dianggap sebagai "kapal gelap" atau terkena sanksi.
"Kapal-kapal yang sempat diblokir kini dihapus dari daftar hitam atau diberikan izin untuk melakukan jenis transaksi keuangan tertentu," ujar Benjamin Robinson, seorang pengacara maritim di Chalos & Co. yang juga pernah menjadi penasihat hukum bagi Penjaga Pantai AS.
"Penting untuk memahami apa yang sedang terjadi; ini adalah sistem yang cukup fleksibel dan dapat digunakan untuk mencapai tujuan kebijakan luar negeri."
Berdasarkan data yang ada, pada Minggu, sebuah kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar atau very large crude carrier (VLCC) bernama Axe—yang sebelumnya terkena sanksi akibat perdagangan yang melibatkan Venezuela namun kemudian dihapus dari daftar hitam AS—berlayar memasuki Teluk Oman.
Kapal tersebut melintasi garis batas di mana AS sedang menerapkan blokade angkatan laut terhadap Iran.
Dua VLCC lainnya — Kelly dan Marbella — yang sebelumnya mengangkut minyak mentah jenis Merey milik negara anggota OPEC tersebut, kini tengah berlayar menjauhi Amerika Selatan dengan tujuan pelabuhan Sohar di Oman.
Seorang juru bicara Komando Pusat AS alias US Central Command (Centcom) — yang bertugas menjaga kepentingan AS di Timur Tengah serta mengawasi blokade angkatan laut AS terhadap Iran — menyatakan bahwa pihak Centcom telah mengetahui keberadaan keempat kapal tersebut, tetapi tidak ada satu pun di antaranya yang saat ini dianggap mengkhawatirkan.
Pihak pemilik kapal, pengelola kapal, maupun State Oil Marketing Organisation (SOMO) milik Irak tidak segera memberikan tanggapan atas pertanyaan yang diajukan oleh Bloomberg.
Kapal-kapal tanker dalam daek fleet seperti ini mungkin tidak akan mengubah ekonomi pengangkutan minyak dari kawasan Teluk ataupun menurunkan tarif pengiriman global yang sedang melambung tinggi, namun keberadaannya dapat sedikit meringankan tekanan di pasar yang saat ini sangat ketat.
Berdasarkan data dari Baltic Exchange, pendapatan harian untuk supertanker yang berlayar dari Timur Tengah menuju Asia Timur telah melonjak lebih dari 4.400% tahun ini.
Menurut para broker kapal, sejumlah supertanker telah disewa untuk mengangkut minyak mentah dari Kuwait dan negara lainnya menuju pelabuhan di luar kawasan Teluk dengan biaya mencapai US$40 juta per pelayaran.
Angka ini setara dengan US$4 juta per hari—jauh lebih tinggi dibandingkan keuntungan yang diperoleh dari rute pelayaran lainnya.
Akibatnya, para broker kapal melaporkan adanya sejumlah besar kapal tanker jenis VLCC dan Suezmax yang beroperasi dalam "armada bayangan" (shadow fleet) di jalur perdagangan tersebut. Selain mengangkut minyak mentah dari Venezuela, beberapa kapal di antaranya sempat menangani minyak dari Rusia dan Iran sebelum beralih ke rute ini.
Para produsen di kawasan Teluk — yang berupaya keras untuk tetap menyalurkan minyak melalui Selat Hormuz di tengah konflik yang terus berlangsung — kini menggunakan kapal tanker ulang-alik (shuttle tanker) untuk memindahkan muatan ke kapal lain yang telah menunggu di Teluk Oman, sebelum kembali lagi.
Keuntungan dari kegiatan ini menarik minat lebih banyak kapal; hingga akhir September, tercatat ada 60 VLCC yang hilir-mudik melalui Selat Hormuz, meningkat dari sekitar 30 kapal pada periode Juni—Juli dan tujuh kapal pada April.
Namun, kehadiran kapal-kapal yang sebelumnya terlibat dalam perdagangan dengan Venezuela tidak serta-merta berarti kapal-kapal lain dari kelompok "armada gelap" akan mampu mengikuti jejak yang sama.
Para pemilik kapal dan pihak terkait menyebutkan adanya berbagai hambatan yang membuat para pedagang maupun produsen sah enggan menggunakan kapal-kapal tersebut.
Kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Venezuela — yang jumlahnya tergolong minoritas — dianggap sebagai kandidat yang paling mungkin diterima, karena pihak Amerika Serikat lebih mudah memberikan izin bagi kapal-kapal ini.
"Menurut saya, penambahan kapal tanker ulang-alik ini tidak akan mampu menurunkan tarif pengangkutan secara signifikan, selama Iran masih menebar ancaman serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut," ujar Muyu Xu, analis senior minyak mentah di Kpler.
"Mengangkut muatan dari Teluk Persia tetap menjadi bisnis yang sangat berisiko."
Setidaknya satu kapal yang sebelumnya masuk dalam daftar hitam kini telah terlihat beroperasi di kawasan Teluk.
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa Kiara M — kapal yang sempat dikenai sanksi karena keterkaitannya dengan perdagangan Venezuela namun kemudian dibebaskan dari sanksi — telah mengangkut minyak mentah asal Irak sejak April.
(bbn)
































