Lebih lanjut, terkhusus untuk kabar rencana pemangkasan produksi endapan hidroksida campuran atau mixed hydroxide precipitate (MHP) hingga 50% dari kapasitas produksi, Arif menilai hal tersebut mengisyaratkan upaya pelaku usaha untuk mengurangi kelebihan pasokan pada rantai pasok baterai.
Dia memandang pasokan bahan baku baterai sedang melimpah akibat perlambatan pertumbuhan permintaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di negara-negara Barat.
Arif menilai pasar saat ini masih menunggu realisasi dari pengurangan produksi yang diusulkan tersebut, termasuk lama pemangkasan dan volumenya.
Dia juga menyatakan pelaku pasar masih memantau apakah pemangkasan yang direncanakan turut memperhitungkan penurunan produksi yang sudah berlangsung di seluruh rantai pasok industri nikel beberapa bulan terakhir atau tidak.
“Pasar saat ini akan menunggu realisasi dari pengurangan produksi yang diusulkan tersebut. Pelaku pasar masih menanti mengenai apakah pengurangan yang diusulkan tersebut pada akhirnya akan benar-benar terealisasi dan berapa lama durasinya,” tegas Arif.
Sebagai informasi, rencana pemangkasan produksi nikel di Indonesia, termasuk oleh empat smelter asal China, dikabarkan menyasar produk MHP dan nickel matte sebesar 50% dan besi kasar nikel atau nickel pig iron (NPI) sebesar 20% dari kapasitas produksi.
Kabar tersebut diungkapkan oleh Shanghai Metals Market (SMM), yang menyebutkan jika pemangkasan dengan besaran tersebut terealisasi, pasokan MHP akan berkurang hingga 18.000 metrik ton nikel per bulan, nickel matte sekitar 7.900 metrik ton nikel per bulan, dan NPI lebih dari 20.000 metrik ton nikel per bulan.
SMM menegaskan besaran pasti pengurangan masih belum dimintai konfirmasi oleh perusahaan smelter dan otoritas terkait.
“Pada 21 Oktober, beredar kabar di pasar mengenai pemangkasan produksi terkoordinasi untuk berbagai produk setengah jadi nikel di Indonesia: 50% untuk MHP, 50% untuk nickel matte, dan 20% untuk NPI,” tulis SMM dalam riset terbarunya, Jumat (23/10/2026).
“Laporan bahwa produsen nikel terkemuka milik China telah membahas pengurangan produksi bersama makin memperkuat momentum tersebut,” tegas SMM.
Para petinggi sejumlah produsen nikel China dikabarkan berencana untuk bertemu pekan lalu, Selasa (20/10/2026), guna membahas pengurangan produksi secara terkoordinasi di pabrik bahan baku baterai mereka di Indonesia.
Perusahaan-perusahaan tersebut—termasuk Tsingshan Holding Group Co, GEM Co, Lygend Resources & Technology Co, dan Zhejiang Huayou Cobalt Co—berencana untuk menetapkan skala pengurangan produksi yang diperlukan.
Rencana tersebut akan ditempuh sebab lemahnya harga logam telah menekan profitabilitas operasi smelter berbasis high pressure acid leach (HPAL) yang menghasilkan MHP mereka. Pertemuan tersebut menyusul diskusi serupa pada Agustus yang tidak menghasilkan kesepakatan.
Menurut sumber Bloomberg News, perusahaan-perusahaan itu kemungkinan akan membahas pengurangan produksi berdasarkan tingkat operasional saat ini.
Di tengah riuh rencana tersebut, CEO BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani melakukan pertemuan dengan Chairman Tsingshan Holding Group Xiang Guangda di China.
Rosan menyatakan pertemuan tersebut membahas pengembangan lanjutan industri nikel dan baja nirkarat di Indonesia.
“Dengan basis industri Tsingshan di Morowali dan Weda Bay, pengembangan lebih lanjut berpotensi memperkuat kapasitas industri nasional sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” kata Rosan dalam unggahan di Instagram resminya, Senin (26/10/2026).
Sekadar informasi, sejumlah smelter nikel pada tahun ini mengalami tekanan dari tingginya harga bahan baku berupa asam sulfat dan sulfur hingga terdampak kekeringan panjang efek El Niño.
Sebagai contoh, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mengamini kawasan basis nikel di Sulawesi Tengah itu tengah terdampak fenomena El Niño pada tahun ini, sehingga berpotensi menurunkan produksi dari smelter di sentra industri tersebut sekitar 30%—40%.
Kemudian, smelter nikel PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) milik Kalla Group di Bua, Luwu, Sulawesi Selatan dikabarkan mengalami kendala operasional akibat turunnya pasokan listrik imbas pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang kekurangan air.
Secara umum, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mencatat saat ini terdapat 422 izin usaha pertambangan (IUP) nikel aktif yang memasok 79 fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter.
Secara terperinci, 79 smelter tersebut terdiri atas 55 fasilitas pirometalurgi berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF), 10 pabrik hidrometalurgi berbasis HPAL, 10 penghasil nickel matte, dan 6 smelter baja nirkarat terintegrasi.
APNI mencatat kebutuhan bijih nikel 79 smelter tersebut—jika beroperasi pada kapasitas penuh — dapat mencapai 415 juta metrik metrik ton per tahun.
(azr/wdh)





























