Ancaman turunnya status pasar saham RI itu telah memicu penyesuaian portofolio oleh investor global, terutama dana investasi yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuannya.
Di sisi lain, dari eksternal, tingginya harga minyak mentah ikut memperberat tekanan terhadap rupiah siang ini. Harga Brent masih bertahan di sekitar US$115/barel, setelah sempat sentuh level tertinggi dalam enam bulan terakhir pada Jumat lalu di level Rp116/barel. Kenaikan harga komoditas energi ini semakin membayangi laju inflasi.
Kenaikan harga minyak dan bayang-bayang inflasi juga turut menekan sejumlah mata uang Asia. Peso Filipina melemah paling tajam, disusul rupiah, baht Thailand, rupee India, yen Jepang, dolar Singapura, ringgit Malaysia dan dolar Hong Kong. Sebaliknya, won Korea Selatan dan yuan China berhasil defensif dan bertengger di zona hijau.
Pasar kini sedang menanti keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, yang sementara ini diperkirakan menahan suku bunga acuannya di 3,75-4%.
Namun, mengingat ancaman inflasi masih terus mengintai dengan harga minyak mentah bertahan tinggi, keputusan The Fed diperkirakan lebih mengarah pada hawkish hold. Mengingat laju inflasi bisa lebih tinggi akibat harga minyak naik, The Fed berpotensi menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi tahun ini demi meredam gejolak inflasi.
(riset)




























