Melandainya yield obligasi Amerika Serikat (AS) dipengaruhi sentimen hawkish hold oleh pelaku pasar terhadap keputusan bank sentral Federal Reserve (The Fed) yang diumumkan pekan ini. The Fed diperkirakan masih akan menahan suku bunga acuan di level 3,75-4% pada pertemuan Oktober.
Langkah kebijakan moneter The Fed itu membawa ruang penguatan bagi sebagian mata uang Asia, khususnya negara dengan struktur ekonomi mapan dan diproyeksikan mencatat pertumbuhan. Seperti won Korea Selatan yang tercatat menguat 0,17% pagi ini, diikuti ringgit Malaysia, dolar Singapura, yuan offshore, dan yen Jepang yang menguat lebih terbatas.
Dari pasar obligasi global, sebagian yield masih tercatat naik. Seperti Inggris naik 3,1 basis poin (bps) jadi 5,35%, disusul Jerman naik 1,2 bps jadi 3,34%, Swiss naik 1,7 bps menjadi 0,44%.
Begitu juga di Jepang, dengan kenaikan yield obligasi 2,2 bps ke 2,8%, diikuti Australia naik 2,6 bps jadi 5,18%. Sedangkan Korea Selatan relatif stabil di 4,1%, dan China 1,62%.
Dari dalam negeri, sinyal ekonomi belum banyak membantu adanya perbaikan sentimen yang diakibatkan oleh pernyataan MSCI hampir dua pekan lalu. Memang likuiditas masih bisa dianggap cukup meski Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga BI Rate di 5,75%. Pertumbuhan uang beredar (M2) pada September menunjukkan adanya perbaikan likuiditas, naik tipis jadi 8,3% yoy dari 8,2% yoy pada Agustus.
Posisi M2 Agustus adalah Rp10.447,6 triliun dan September ada di Rp10.587,9 triliun di September ini. Artinya, dalam sebulan stok uang beredar bertambah Rp140,3 triliun.
Akan tetapi, ekspansi kredit terlihat lebih cepat (+12,7%) daripada pertumbuhan simpanan masyarakat (+8,2%). Pada saat yang sama, sejumlah indikator menginsyaratkan daya beli dan permintaan kredit belum sepenuhnya pulih, dengan kredit konsumsi melambat jadi 4,7% dari 5% bulan Agustus.
Dengan kondisi domestik tersebut, rupiah diperkirakan masih akan menghadapi sejumlah tekanan. Namun, intervensi BI kemungkinan masih akan bisa menopang rupiah, setidaknya untuk bertahan di kisaran bawah Rp18.100/US$.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah berisiko melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan hari ini, dengan target pelemahan menuju Rp18.100/US$ hingga menembus Rp18.150/US$. Selanjutnya berpeluang masih lanjut melemah bila tertembusnya support kuat dari posisi sebelumnya.
Adapun dalam tren jangka menengah, atau dalam sepekan perdagangan, rupiah terkonfirmasi membentuk tren bearish. Apabila tertembus trendline channel kuatnya lagi, maka bisa saja melemah hingga Rp18.178/US$.
Namun jika rupiah memberikan tanda-tanda menguat nantinya, maka resistance terdekat dapat menuju Rp18.000/US$. Laju rupiah dalam resistance nantinya di antara Rp17.900/US$ sampai dengan Rp17.800/US$, biarpun peluangnya amat terbatas.
(riset/aji)


























