Logo Bloomberg Technoz

Tsingshan

Tshingshan Group sendiri merupakan perusahaan pelat merah China yang didirikan pada medio 1980. Sejak awal berdiri, Tsingshan Group fokus pada pengolahan baja nirkarat atau stainless steel.

Papan tanda di atas gedung perkantoran Tsingshan Holding Group Co. di Shanghai, China./Bloomberg-Qilai Shen

Tsingshan memegang saham di empat perusahaan smelter di Indonesia melalui PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), antara lain; PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry, PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS), dan PT Indonesia Ruipu Nickel and Chrome Alloy.

Kemudian memegang saham di PT Yashi Indonesia Investment langsung melalui Shanghai Decent Investment Group, kemudian memegang saham PT Bukit Smelter Indonesia dan PT Cahaya Smelter Indonesia melalui Tsingshan Holding Group.

Secara keseluruhan, Tsingshan Group di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menghasilkan baja nirkarat hingga 3 juta ton, besi kasar nikel atau nickel pig iron (NPI) 2 juta ton, dan baja karbon 3,5 juta ton per tahun.

Tsingshan sempat memproyeksikan output atau produksi NPI yang menjadi bahan baku baja nirkarat dari Indonesia mencapai 1,74 juta ton pada 2025.

GEM 

GEM Co., Ltd. merupakan perusahaan asal China yang bergerak di bidang daur ulang logam, penambangan, dan produksi bahan baku baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

GEM telah membangun 16 pabrik daur ulang limbah dan manufaktur material energi baru di 11 provinsi dan kota di China, Afrika Selatan, Korea Selatan, hingga Indonesia.

GEM tercatat sebagai pemilik saham smelter nikel PT QMB New Energy Materials Indonesia yang berlokasi di IMIP, Sulawesi Tengah.

GEM menggenggam saham QMB sebesar 55%, Tsingshan 10%, entitas yang dikendalikan CATL 10%, ECOPRO BM 9%, Hanwa Co., Ltd. 8%, dan Yibin Libao 8%.

QMB mencakup area seluas 106 hektare dengan total investasi sebesar US$ 3,7 miliar, dengan kapasitas produksi tahunan sebesar 150.000 ton nikel (Ni) di endapan hidroksida campuran atau mixed hydroxide precipitate (MHP), 30.000 ton Ni di nikel-kobalt-mangan sulfat.

Kemudian, 30.000 ton Ni di elektrolitik, 50.000 ton Ni di prekursor terner nikel ultratinggi, 30.000 ton Ni di material katoda terner, dan 100.000 ton mangan sulfat dan mangan elektrolitik.

Selain itu, GEM bersama PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) tengah menggarap smelter nikel hidrometalurgi atau HPAL senilai US$1,42 miliar.

Kerja sama pengembangan smelter HPAL yang digagas oleh BPI Danantara tersebut ditargetkan memiliki kapasitas 66.000 ton nikel dalam endapan hidroksida campuran per tahun.

Di proyek tersebut, GEM akan memiliki hingga 25% saham, sedangkan Vale akan mengambil 30%, dan pihak ketiga akan ditunjuk untuk sisanya. GEM dan unit Vale juga akan mempertimbangkan pembangunan pabrik anoda dan prekursor di hilir.

Lygend 

Lygend memiliki keterlibatan dalam tiga perusahaan pengolahan nikel di Indonesia, yakni PT Halmahera Persada Lygend (HPL), PT Obi Nickel Cobalt (ONC), dan PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF).

HPL dan ONC mengoperasikan fasilitas pengolahan nikel menggunakan teknologi HPAL untuk mengolah bijih nikel menjadi MHP.

Sementara itu, HJF menggunakan RKEF untuk mengolah bijih nikel menjadi feronikel, yang digunakan dalam industri baja nirkarat.

Berdasarkan laporan keuangan PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) atau Harita Nickel per 31 Maret 2026, Lygend memiliki 29,54% saham di HPL secara langsung.

Di HPL, PT Trimegah Bangun Persada memegang 45,10% saham dan Kang Xuan Pte. Ltd. sebesar 25,36%.

Di smelter ONC Lygen melalui Lygend New Power menggenggam saham sebesar 60%, Li Yuen sebesar 30%, dan Harita Nickel sebesar 10

Sementara di smelter HJF, Lygend Resources & Technology tercatat sebagai pemegang saham sebesar  37% saham, sedangkan PT Obira Jaya memegang 63%.

Zhejiang Huayou Cobalt (Dok. Huayou)

Huayou 

Huayou didirikan sejak 2002. Perusahaan tersebut berkantor pusat di Tongxiang, Zhejiang, Cina.

Huayou telah membangun lima sektor bisnis industri energi baru, industri material baru, industri nikel Indonesia, industri sumber daya Afrika dan industri daur ulang.

Bisnisnya mencakup seluruh rantai industri bahan baterai ion-litium energi baru; termasuk pengembangan sumber daya kobalt, nikel, dan litium, penyulingan ramah lingkungan dari logam nonbesi, penelitian dan pengembangan, serta pembuatan bahan baterai ion-litium, dan daur ulang sumber daya.

Saat ini, perusahaan itu memiliki enam proyek di Indonesia. Pertama, proyek Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Adapun, perusahaan-perusahaan di IPIP terdiri dari smelter hidrometalurgi atau HPAL, RKEF, pemurnian atau refining, prekursor, bahan katoda, baterai ternary litium, daur ulang baterai, dan berbagai perusahaan lainnya.

Selain itu, terdapat proyek Huayue HPAL di IMIP, Sulawesi Tengah; Huafei HPAL di Indonesia Weda Bay Industrial Park, Maluku Utara; dan Huake RKEF di Indonesia Weda Bay Industrial Park, Maluku Utara.

Huayou Indonesia juga mempunyai proyek KNI HPAL di Pomalaa, Sulawesi Tenggara dan Proyek Sorowako di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

(azr/wdh)

No more pages