Situasi di Timur Tengah menjadi sentimen negatif bagi harga emas. Arab Saudi sedang gencar mendapatkan serangan.
Bloomberg News mengabarkan, lapangan Shaybah milik Saudi Aramco mengalami serangan pesawat nirawak (drone). Dua orang meninggal dunia.
Serangan juga terjadi di Bandara Internasional King Fahd di Dammam. Satu orang meninggal dunia akibat serangan ini.
Dampaknya adalah harga minyak langsung melonjak. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup di US$ 113,22/barel, tertinggi sejak awal Mei atau lebih dari lima bulan terakhir.
Saat harga energi meroket, maka dunia akan terus dalam ancaman inflasi tinggi. Ini akan membuat bank sentral di berbagai negara (termasuk Federal Reserve dari Amerika Serikat/AS) sepertinya sulit untuk tidak menaikkan suku bunga acuan.
Mengutip CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam dalam rapat bulan ini memang hanya 7,2%. Namun dalam rapat Desember kemungkinannya mencapai 74,8%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
“Harga logam mulia saat ini dalam fase perhitungan. Volatilitas masih akan tinggi sampai rapat The Fed berikutnya,” kata Alex Carrier, Portfolio Manager di DNCA Finance, seperti diberitakan Bloomberg News.
(aji)






























