Logo Bloomberg Technoz

Peso Filipina juga kembali mencetak rekor terendah pada Kamis, setelah pekan lalu menembus level psikologis 63 peso per dolar AS untuk pertama kalinya. Pelemahan mata uang tersebut berisiko mendorong inflasi karena Filipina sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar dan pangan.

Indeks saham acuan Filipina turun 0,9% setelah pengumuman kenaikan suku bunga, sementara peso memangkas pelemahannya.

Otoritas moneter Filipina kini telah menaikkan biaya pinjaman dengan total 125 basis poin sejak perang Iran pecah pada awal tahun ini. Kenaikan tersebut berlangsung ketika perekonomian Filipina tumbuh pada laju paling lambat sejak pandemi.

“BSP siap mengambil langkah kebijakan moneter lebih lanjut jika diperlukan untuk memastikan inflasi kembali ke sasaran tepat waktu, sesuai dengan mandat kami untuk menjaga stabilitas harga,” kata bank sentral tersebut.

BSP memperkirakan inflasi umum akan kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang, tetap tinggi pada 2027, dan baru mendekati target 3% pada 2028. Inflasi inti juga diperkirakan terus meningkat.

BSP mengatakan risiko inflasi semakin besar karena kembali berkobarnya pertempuran di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak global, sementara tarif transportasi juga telah dinaikkan. Kekeringan parah akibat kemungkinan El Niño turut berisiko mengganggu produksi pertanian.

Indeks harga konsumen (IHK) Filipina telah melonjak 7,2% pada September dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, membalikkan tren perlambatan selama empat bulan berturut-turut. Dengan demikian, rata-rata inflasi sejak awal tahun mencapai 5,4%, jauh di atas target bank sentral sebesar 3%.

(bbn)

No more pages