Logo Bloomberg Technoz

Sementara di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika ada negara-negara seperti Bosnia-Herzegovina, Bulgaria, Lebanon, Malta, Nigeria, Palestina, Ukraina, dan Zimbabwe.

Klasifikasi Indeks MSCI (Sumber: MSCI)

Apakah bursa saham Indonesia bisa disetarakan dengan Zimbabwe, yang saat ini berada di posisi Standalone? 

Sepertinya tidak. Pasar saham Indonesia jauh lebih besar, dari sisi ukuran, jumlah emiten, dan sebagainya.

Mengutip catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), kapitalisasi pasar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) per 15 Oktober mencapai US$ 572 miliar. Di level Asia Tenggara, IHSG berada di peringkat kedua, hanya kalah dari bursa saham Singapura.

Capaian ini jauh melebihi kapitalisasi pasar bursa saham Zimbabwe (ZSE) yang per Oktober tercatat US$ 8,55 miliar. Artinya, kapitalisasi ZSE hanya sekitar 1,5% dari Indonesia.

Di ZSE, saat ini hanya ada 34 perusahaan terbuka. Beberapa yang terbesar adalah Delta Corporations Ltd, CBZ Holdings Ltd, FBC Holdings Ltd, dan British American Tobacco Zimbabwe Ltd.

Sedangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), sudah ada 1.017 perusahaan terbuka yang mencatatkan sahamnya. Dari total 1.017 entitas tercatat tersebut, sebanyak 956 perusahaan merupakan emiten saham aktif yang memiliki kewajiban penyampaian laporan keuangan berkala, sedangkan sebagian efek lainnya mencakup Exchange Traded Fund (ETF), Real Estate Investment Trust (DIRE), dan waran terstruktur.

Likuiditas di pasar saham kedua negara pun bak bumi dan langit. Di Indonesia, rata-rata nilai transaksi tahun ini sampai 15 Oktober adalah US$ 1,18 miliar per hari. 

Sedangkan di ZSE, rata-rata transaksi harian maksimal ‘hanya’ US$ 40.000. Jauh lebih rendah ketimbang Indonesia.

Ekonomi Makro

Dari sisi perekonomian secara umum, situasi Indonesia dan Zimbabwe juga sangat berbeda. Indonesia merupakan perekonomian terbesar di Asia Tenggara yang menjadi anggota G-20.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025 mencapai US$ 1,44 triliun. Jauh di atas Zimbabwe yang sebesar US$ 51,22 miliar.

Zimbabwe juga mengalami inflasi yang sangat tinggi. Tahun lalu, inflasi di negara asal kiper legendaris Bruce Grobbelaar ini mencapai 15%. Sedangkan Indonesia jauh lebih terkendali dengan inflasi 2,92%.

Terkait kemiskinan, kondisi Zimbabwe juga lebih memprihatinkan. Bank Pembangunan Afrika mencatat tingkat kemiskinan di Zimbabwe pada 2025 mencapai 40%. 

Sementara di Indonesia, BPS mencatat tingkat kemiskinan per Maret tahun ini ada di 8,07%.

(red)

No more pages